Dulu Sekutu, Kini Berseberangan: Saudi–UEA Hadapi Babak Baru Rivalitas Regional

Dulu Sekutu, Kini Berseberangan: Saudi–UEA Hadapi Babak Baru Rivalitas Regional

Riyadh, kameranusantara.id – Hubungan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) yang selama ini dipandang sebagai poros kekuatan utama di kawasan Teluk kini tidak lagi sejalan. Dua negara yang pernah berjalan beriringan itu mulai menempuh jalur berbeda, seiring menguatnya perbedaan kepentingan politik, ekonomi, dan strategi regional di tengah konflik Timur Tengah yang kian kompleks.

Kedekatan personal antara Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) dan Presiden UEA Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan (MBZ) sempat menjadi simbol solidnya aliansi kedua negara. Bahkan, MBZ kerap disebut sebagai mentor politik MBS pada fase awal konsolidasi kekuasaan di Riyadh. Namun, dinamika kawasan dan ambisi nasional masing-masing perlahan mengikis harmoni tersebut.

Arab Saudi saat ini memusatkan perhatian pada agenda transformasi ekonomi dan pembangunan domestik, sembari berupaya menegaskan kembali perannya sebagai pemimpin utama dunia Arab. Sebaliknya, UEA memilih memperluas pengaruhnya di luar negeri melalui jaringan kemitraan strategis, termasuk dengan aktor lokal di wilayah konflik Timur Tengah dan Afrika.

Perbedaan pendekatan itu memicu gesekan di berbagai isu, mulai dari kebijakan produksi minyak, konflik Sudan, hingga persaingan pengaruh di Tanduk Afrika dan Yaman. Di Yaman, keretakan hubungan terlihat paling jelas. Dukungan UEA terhadap Dewan Transisi Selatan (STC) yang menguasai wilayah penting seperti Hadramawt dan Mahra bertabrakan dengan kepentingan Arab Saudi yang menopang pemerintahan pusat Yaman.

Ketegangan meningkat ketika pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi dilaporkan menyerang pengiriman senjata yang diduga ditujukan bagi kelompok separatis yang berafiliasi dengan STC. Situasi ini mempertegas perbedaan visi kedua negara terkait masa depan Yaman.

Sejak penarikan sebagian besar pasukan UEA dari Yaman pada 2019, para pengamat menilai tujuan Riyadh dan Abu Dhabi semakin sulit dipertemukan. Arab Saudi cenderung mengedepankan stabilitas negara dan legitimasi pemerintah pusat, sementara UEA dinilai lebih fleksibel dengan merangkul kekuatan lokal demi kepentingan strategis jangka panjang.

Perbedaan ideologi turut memperlebar jarak. UEA dikenal bersikap tegas terhadap kelompok Islam politik seperti Ikhwanul Muslimin dan aktif mendorong pembatasan pengaruh kelompok tersebut di kawasan. Pendekatan ini tidak sepenuhnya sejalan dengan kebijakan Arab Saudi yang lebih berhati-hati dalam isu serupa.

Di Sudan, persaingan pengaruh juga mengemuka. Arab Saudi mendukung militer Sudan, sementara UEA dituding memberi sokongan kepada Pasukan Dukungan Cepat (RSF), meski tudingan itu dibantah oleh Abu Dhabi. Konflik Sudan pun menjadi panggung baru rivalitas kedua negara Teluk tersebut.

Ketegangan turut menjalar ke kawasan Tanduk Afrika. UEA memperkuat posisinya melalui hubungan dengan Ethiopia dan Somaliland, termasuk dengan pengoperasian pangkalan militer di Berbera. Sementara itu, Arab Saudi memilih mendukung pemerintah Somalia. Perbedaan sikap makin terlihat ketika Israel mengakui Somaliland, langkah yang menuai kecaman keras dari Riyadh namun tidak mendapat respons serupa dari Abu Dhabi.

Meski hubungan diplomatik formal masih terjaga, renggangnya relasi Arab Saudi dan UEA mencerminkan pergeseran lanskap geopolitik Timur Tengah. Kepentingan nasional kini lebih dominan dibanding solidaritas lama, menjadikan dua sekutu tradisional itu semakin sering berhadapan sebagai pesaing di panggung regional. (kls)

Olahraga

Konflik Global Memanas, FIFA Tetap Targetkan Piala Dunia 2026 Diikuti Semua Negara

Konflik Global Memanas, FIFA Tetap Targetkan Piala Dunia 2026 Diikuti Semua Negara

Jakarta, Kamerranusantara.id- Meski dinamika geopolitik global tengah memanas, badan sepak bola dunia FIFA menegaskan keinginannya agar Iran tetap

Advertisement