Jakarta,Kameranusantara.id - Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla, didampingi mantan Menteri Hukum dan HAM, Hamid Awaluddin, serta mantan Juru Bicara Wakil Presiden periode 2014-2019, Husain Abdullah, menyampaikan keterangan pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Jusuf Kalla memberikan klarifikasi terkait polemik dugaan penistaan agama yang muncul akibat beredarnya potongan video ceramahnya di Universitas Gadjah Mada pada 5 Maret 2026. Ia menegaskan bahwa isi ceramahnya perlu dipahami secara utuh dan tidak dipotong konteksnya.
Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla meminta maaf karena baru muncul di hadapan publik untuk menjelaskan sejumlah permasalahan yang viral terkait dirinya.
“Pertama, saya minta maaf karena baru hari ini dapat menjelaskan masalah-masalah yang viral, karena saya subuh tadi baru pulang dari Jepang,” ujar pria yang akrab disapa JK dalam konferensi pers di Jakarta, Sabtu.
JK menjelaskan bahwa dirinya ingin menjelaskan kepada publik mengenai potongan video ceramah yang disampaikannya di Masjid Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Ramadhan 1447 Hijriah.
“Saya ingin menjawab, menjelaskan tentang ceramah saya, ceramah Ramadhan. Ceramah Ramadhan itu artinya yang hadir hanya orang muslim, ya, di masjid lagi. Kemudian di kampus, berarti orang yang hadir adalah intelektual. Itu dulu yang perlu dipahami tentang keadaan itu,” katanya.
Kemudian dirinya menayangkan cuplikan video terkait konflik Maluku dan Poso kepada para hadirin. Dua konflik tersebut ditayangkan, kata dia, karena menjadi salah satu bahasan ceramah yang viral di tengah masyarakat.
“Karena ini menyangkut Maluku dan Poso, sebelum saya ingin menjelaskan, saya ingin perlihatkan dulu sekilas, karena anda masih muda, mungkin sebagian belum lahir, karena itu terjadi sekitar 26 tahun yang lalu,” katanya.
Ia menjelaskan video tersebut hanya sebagian dari keseluruhan konflik.

















Komentar
Tuliskan Komentar Anda!