Gelombang Protes Iran Tewaskan Ratusan Warga, Korban Terus Bertambah

Gelombang Protes Iran Tewaskan Ratusan Warga, Korban Terus Bertambah

Teheran, kameranusantar,id - Gelombang demonstrasi yang melanda Iran sejak akhir Desember 2025 menelan korban jiwa dalam jumlah besar. Lembaga pemantau hak asasi manusia yang berbasis di Norwegia, Iran Human Rights (IHRNGO), melaporkan sedikitnya 648 demonstran tewas dalam rangkaian aksi protes yang berlangsung sejak 28 Desember 2025 hingga 12 Januari 2026.

Dalam pernyataan resminya, IHRNGO menyebutkan bahwa di antara korban terdapat sembilan anak berusia di bawah 18 tahun. Selain korban meninggal, ribuan warga dilaporkan mengalami luka-luka akibat bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan di sejumlah kota besar.

Data berbeda disampaikan Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia yang berbasis di Amerika Serikat. Dalam laporan yang dikutip CNN pada Senin (12/1/2026), jumlah korban tewas akibat penindakan terhadap demonstrasi tercatat sebanyak 544 orang. Sementara itu, media semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan bahwa sedikitnya 109 personel aparat keamanan turut tewas selama pengamanan aksi protes yang terus meluas di berbagai wilayah Iran.

Kekerasan juga dilaporkan menyasar lembaga kemanusiaan. Palang Merah Iran mengonfirmasi seorang stafnya meninggal dunia setelah terjadi serangan terhadap salah satu fasilitas bantuan di Kota Gorgan.

Aksi unjuk rasa kali ini disebut sebagai yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Protes dipicu lonjakan harga kebutuhan pokok dan inflasi yang dinilai semakin menekan kehidupan masyarakat. Seorang warga bernama Ahmadian, yang diwawancarai Al Jazeera, mengatakan keresahan publik berakar pada persoalan ekonomi, meski tidak semua warga mendukung aksi kekerasan. “Banyak warga Iran kecewa dengan kondisi ekonomi, tetapi sebagian besar juga menolak kekerasan dalam menyampaikan aspirasi,” ujarnya.

Mengutip laporan BBC, gelombang protes bermula dari aksi mogok massal pedagang di pasar utama Teheran pada 28 Desember 2025, menyusul anjloknya nilai mata uang nasional. Situasi tersebut kemudian berkembang menjadi krisis kepercayaan terhadap pemerintah.

Tak lama setelah itu, demonstrasi merembet ke kampus-kampus. Pemerintah merespons dengan menutup sejumlah universitas, yang secara resmi disebut karena faktor cuaca dingin. Namun, langkah tersebut tak mampu meredam gelombang protes yang terlanjur menyebar ke berbagai kota, terutama di wilayah barat Iran.

Hingga kini, situasi di Iran masih bergejolak, sementara komunitas internasional terus memantau perkembangan krisis kemanusiaan dan keamanan di negara tersebut. (kls)

Olahraga

Konflik Global Memanas, FIFA Tetap Targetkan Piala Dunia 2026 Diikuti Semua Negara

Konflik Global Memanas, FIFA Tetap Targetkan Piala Dunia 2026 Diikuti Semua Negara

Jakarta, Kamerranusantara.id- Meski dinamika geopolitik global tengah memanas, badan sepak bola dunia FIFA menegaskan keinginannya agar Iran tetap

Advertisement