Jakarta - Tak semua orang menjadi target gigitan nyamuk. Sejumlah penelitian membuktikan bahwa serangga ini ternyata cukup selektif dalam memilih "korban". Menurut profesor entomologi Jonathan F. Day, salah satu faktor utama yang membuat seseorang lebih rentan digigit nyamuk adalah jumlah karbon dioksida (CO₂) yang dihasilkan tubuhnya.
“Jumlah CO₂ yang kamu hasilkan, yang dipengaruhi oleh tingkat metabolisme, faktor genetik, dan lainnya, meningkatkan ketertarikan nyamuk terhadapmu,” jelas Day, dikutip dari La Bible.
Semakin tinggi produksi CO₂ seseorang, semakin besar pula peluangnya menjadi sasaran nyamuk. Selain itu, zat seperti asam laktat—yang sering muncul setelah otot bekerja keras atau mengalami kram—juga diketahui menarik perhatian nyamuk.
Jonathan F. Day menambahkan bahwa pilihan warna pakaian juga menentukan apakah seseorang akan lebih sering digigit nyamuk.
“Cara kamu berpakaian penting. Kalau kamu memakai pakaian berwarna gelap, kamu akan lebih menarik bagi nyamuk karena terlihat menonjol dari latar belakang, sementara warna terang tidak begitu,” ujar Day.
Nyamuk sangat tertarik pada panas tubuh. Oleh karena itu, orang yang sedang berolahraga, hamil, mengonsumsi alkohol, atau memiliki berat badan lebih tinggi, cenderung mengeluarkan lebih banyak panas dan aroma tubuh, yang memikat nyamuk untuk mendekat.
Faktor menarik lainnya adalah golongan darah. Sejumlah studi menemukan bahwa nyamuk tampaknya lebih menyukai orang dengan golongan darah O. Hal ini diduga karena perbedaan antigen di permukaan sel darah merah pada setiap golongan darah.
Menurut laporan Healthline, orang dengan golongan darah O menghasilkan antigen H, prekursor dari antigen A dan B, yang dianggap menggugah selera bagi nyamuk.
Penelitian tahun 1974 mencatat bahwa nyamuk lebih memilih inang dengan golongan darah O. Studi tahun 2004 memperkuat temuan ini dengan menyebut subjek bergolongan darah O lebih sering menarik nyamuk dibanding golongan darah lainnya.
Penelitian lain pada tahun 2019 kembali menunjukkan bahwa nyamuk memiliki preferensi tertinggi terhadap darah O saat diberi pilihan berbagai jenis golongan darah.
Meskipun hasil penelitian menunjukkan tren tertentu, perusahaan farmasi Pfizer menyebut bahwa hubungan antara golongan darah dan daya tarik terhadap nyamuk masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan.
“Penelitian laboratorium tentang apakah golongan darah membuat seseorang lebih (atau kurang) menarik bagi nyamuk telah memicu banyak spekulasi, tetapi hasil ilmiahnya masih bertentangan,” jelas Pfizer.
Menurut Pfizer, kemungkinan besar bau kulit dan mikrobiota (kumpulan mikroorganisme di kulit) memainkan peran yang lebih besar daripada golongan darah. (*)
















Komentar
Tuliskan Komentar Anda!