Teheran, kameranusantara.id - Majelis Pakar Iran dikabarkan telah menetapkan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran berikutnya. Putra dari Ali Khamenei itu disebut akan menggantikan ayahnya, menandai potensi kesinambungan arah politik Teheran, terutama dalam sikap konfrontatif terhadap Amerika Serikat dan Israel.
Majelis Pakar, yang beranggotakan 88 ulama Syiah berpengaruh dan memiliki kewenangan menunjuk pemimpin tertinggi, dilaporkan mengambil keputusan tersebut di tengah dinamika keamanan yang memanas. Sejumlah sumber menyebutkan pemilihan Mojtaba mendapat dorongan kuat dari Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) atau Garda Revolusi Iran.
Mojtaba diketahui memiliki kedekatan historis dengan IRGC. Ia pernah menjadi bagian dari institusi militer tersebut dan selama kepemimpinan ayahnya disebut memiliki pengaruh signifikan terhadap struktur pertahanan dan keamanan negara.
Laporan sejumlah media internasional menyebutkan para ulama sempat mempertimbangkan sejumlah faktor sebelum mengambil keputusan. Salah satu kekhawatiran yang muncul adalah potensi meningkatnya risiko keamanan jika suksesi dilakukan kepada figur yang sudah lama menjadi sorotan Amerika Serikat dan sekutunya.
Sosok Mojtaba Khamenei
Berusia 56 tahun, Mojtaba merupakan putra kedua Ali Khamenei. Ia dikenal jarang tampil di ruang publik dan tidak pernah menduduki jabatan pemerintahan formal. Meski demikian, berbagai laporan menyebut pengaruhnya cukup besar di lingkaran elite politik dan militer Iran.
Namanya juga sempat masuk daftar sanksi Amerika Serikat pada 2019. Sejumlah laporan media Barat mengaitkannya dengan jaringan investasi dan aset di luar negeri, meski informasi tersebut sulit diverifikasi secara independen.
Di dalam negeri, pencalonan Mojtaba dinilai berpotensi memicu perdebatan. Suksesi dari ayah ke anak dalam struktur kepemimpinan ulama Syiah dapat dipandang sebagai langkah menuju pola kekuasaan yang menyerupai sistem turun-temurun—isu sensitif mengingat Revolusi Iran 1979 menggulingkan monarki Shah Mohammad Reza Pahlavi yang didukung Barat.
Sejumlah sumber sebelumnya menyebut Ali Khamenei tidak menginginkan kesan terbentuknya dinasti politik dalam sistem Republik Islam. Namun, dengan keputusan Majelis Pakar tersebut, arah kepemimpinan Iran ke depan diperkirakan tetap berada dalam garis kebijakan yang selama ini dijalankan, terutama dalam menghadapi tekanan geopolitik di kawasan. (kls)
















Komentar
Tuliskan Komentar Anda!