Jakarta, kameranusantara.id - Gelombang demonstrasi yang terus berlangsung di Iran dinilai berpotensi memicu dampak lanjutan hingga ke tingkat global, termasuk bagi Indonesia. Dosen Hubungan Internasional President University, Teuku Rezasyah, menilai sikap Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang secara terbuka mendorong warga Iran untuk terus berunjuk rasa merupakan bentuk intervensi yang bertentangan dengan hukum internasional.
Menurut Rezasyah, Iran adalah negara berdaulat yang seharusnya bebas dari campur tangan pihak luar. Dukungan Amerika Serikat terhadap kelompok demonstran dinilai melanggar prinsip non-intervensi dan penghormatan terhadap kedaulatan negara, sebagaimana diatur dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa. Ia menjelaskan, Piagam PBB Pasal 2 Ayat 4 secara tegas melarang penggunaan kekuatan atau tekanan terhadap integritas wilayah dan kemerdekaan politik negara lain. Dalam konteks Iran, sanksi ekonomi, ancaman intervensi militer, hingga janji bantuan langsung kepada demonstran disebut sebagai tindakan yang melampaui batas kedaulatan.
Rezasyah menilai langkah Amerika Serikat tidak terlepas dari kepentingan strategis, terutama terkait keamanan pasokan minyak Iran ke pasar global. Jika dibiarkan, pola intervensi semacam ini dikhawatirkan menjadi preseden buruk dalam hubungan internasional.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa konflik berkepanjangan di Iran berpotensi membawa dampak tidak langsung bagi Indonesia. Meski menganut politik luar negeri bebas aktif dan tidak berpihak pada blok kekuatan tertentu, Indonesia tetap rentan terhadap gejolak geopolitik global, khususnya di sektor energi. “Kenaikan tensi di kawasan Timur Tengah bisa berdampak pada stabilitas harga minyak dunia. Hal ini akan memengaruhi biaya impor minyak dan elpiji Indonesia, yang pada akhirnya berdampak pada ketahanan ekonomi nasional,” ujarnya.
Ia juga menyoroti ketergantungan Indonesia terhadap sistem perdagangan dan investasi global. Meski memiliki potensi besar di sektor energi terbarukan serta sumber daya mineral strategis seperti nikel, bauksit, dan tembaga, Indonesia masih membutuhkan investasi dan teknologi dari negara-negara maju untuk mendorong transisi energi bersih.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump secara terbuka menyerukan agar warga Iran melanjutkan aksi protes. Dalam pernyataan di media sosial Truth Social, Trump bahkan menyebut bantuan sedang disiapkan bagi para demonstran. Ia juga menyatakan membatalkan pertemuan dengan pejabat Iran hingga tindakan kekerasan terhadap pengunjuk rasa dihentikan.
Sementara itu, situasi di Iran terus memanas. Berdasarkan data kelompok pemantau HAM HRANA, sedikitnya 2.571 orang dilaporkan tewas sejak gelombang unjuk rasa pecah. Aksi protes yang bermula dari keluhan ekonomi di Teheran pada akhir Desember lalu kini berkembang menjadi gerakan yang menantang pemerintahan Iran, disertai kerusuhan dan bentrokan di sejumlah wilayah. Para pengamat menilai, jika eskalasi ini terus berlanjut, dampaknya tidak hanya dirasakan di dalam negeri Iran, tetapi juga berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi dan politik global, termasuk Indonesia. (kls)
















Komentar
Tuliskan Komentar Anda!