Prof Didik Rachbini Bicara soal Tuntutan Nadiem Makarim: Masalahnya Tata Kelola, Bukan Sekadar Korup

Prof Didik Rachbini Bicara soal Tuntutan Nadiem Makarim: Masalahnya Tata Kelola, Bukan Sekadar Korup

Jakarta, Kameranusantara.id - Tuntutan 18 tahun penjara terhadap mantan Mendikbudristek dalam kasus proyek digitalisasi pendidikan memunculkan polemik luas. Sebagian publik melihat kasus ini sebagai kegagalan tata kelola proyek negara bernilai jumbo, sementara sebagian lain menilai ada dimensi politik yang ikut memengaruhi.

Rektor Universitas Paramadina, Jakarta, Prof Didik J Rachbini, menilai persoalan utama proyek digitalisasi pendidikan bukan sekadar soal ada atau tidaknya korupsi personal, tetapi menyangkut cara pandang dalam membangun transformasi pendidikan nasional.

Mengapa begitu? Berikut wawancara TIMES Indonesia bersama Prof Didik J Rachbini:

Bagaimana Anda melihat tuntutan 18 tahun penjara terhadap Nadiem Makarim?

Kasus ini jangan dilihat secara hitam-putih sekadar “korupsi atau tidak korupsi”. Masalah utamanya justru ada pada tata kelola proyek publik yang sangat besar. Ini proyek hampir Rp10 triliun. Angka yang luar biasa besar.

Pertanyaan publik sederhana sebenarnya: hasil transformasi pendidikan yang dijanjikan itu mana? Karena sampai sekarang masyarakat tidak melihat perubahan yang benar-benar signifikan.

Apakah menurut Anda proyek digitalisasi pendidikan memang bermasalah sejak awal?

Menurut saya iya. Sejak awal sudah ada kekeliruan cara berpikir. Ada keyakinan bahwa pendidikan bisa ditransformasi cepat hanya dengan gadget, laptop, dan internet. Ini yang saya sebut tech-solutionism. Seolah-olah teknologi adalah jawaban tunggal.

Seharusnya?

Begini ya, pendidikan itu kompleks. Ada kualitas guru, budaya belajar, literasi dasar, infrastruktur listrik, internet, hingga kesiapan sekolah. Jadi transformasi pendidikan tidak bisa instan hanya karena sekolah diberi perangkat digital.


Apa pelajaran terbesar dari kasus ini?

Pelajarannya besar sekali. Kita jangan terlalu mudah membawa orang sukses di dunia bisnis atau teknologi masuk ke politik dan birokrasi tanpa kesiapan sosial-politik yang memadai.

Politik itu medan yang penuh jebakan. Orang bisa sangat sukses di dunia startup, tetapi belum tentu siap menghadapi kompleksitas birokrasi negara.

Jadi menurut Anda figur seperti Nadiem sebaiknya tetap di dunia bisnis dan teknologi?

Bukan begitu juga. Tetapi harus ada kesiapan yang matang.

Lihat Mark Zuckerberg, Elon Musk, Jensen Huang. Mereka tetap besar di bidangnya masing-masing. Mereka membangun pengaruh global tanpa harus masuk terlalu dalam ke politik praktis.

Kalau masuk birokrasi negara, maka harus siap dengan sistem, aturan, dan pertanggungjawaban publik yang jauh lebih rumit.

Apa pesan Anda terkait transformasi pendidikan Indonesia ke depan?

Transformasi pendidikan tetap penting. Digitalisasi juga penting. Tetapi jangan menjadikan teknologi sebagai solusi tunggal.

Pendidikan itu soal manusia, budaya belajar, kualitas guru, dan sistem yang berkelanjutan. Teknologi hanyalah alat bantu.

Kalau fondasi dasarnya tidak kuat, maka proyek sebesar apa pun akhirnya hanya akan menjadi tumpukan perangkat tanpa perubahan nyata. (*)



---
Sumber: TIMES INDONESIA

Olahraga

Klasemen Super League Memanas, Persib Masih Teratas Dikejar Borneo FC

Klasemen Super League Memanas, Persib Masih Teratas Dikejar Borneo FC

Jakarta, kameranusantara.id - Persaingan di Indonesia Super League kian sengit setelah pekan ke-28 rampung. Persib Bandung masih bertahan di puncak

Advertisement