Merauke, kameranusantara.id - Uskup Agung Merauke, Petrus Canisius Mandagi, mengecam film dokumenter Pesta Babi yang dinilainya menghadirkan narasi tidak akurat dan cenderung provokatif terkait proyek strategis nasional (PSN) di Papua Selatan.
Dalam pernyataan videonya yang beredar pada Minggu (24/5/2026), Uskup Mandagi meminta masyarakat tetap bersikap kritis saat menyaksikan film tersebut. Ia mempertanyakan tujuan pembuatan film yang dianggap tidak menggambarkan kondisi sebenarnya di Papua.
Menurutnya, pembuat film tidak memahami situasi lapangan secara utuh karena tidak tinggal lama di wilayah Papua Selatan.
“Film itu sangat provokatif. Publik harus kritis dan melihat apa tujuan sebenarnya dari narasi yang dibangun,” ujar Mandagi.
Ia juga membantah tudingan dalam film yang menyebut Keuskupan Agung Merauke mendukung PSN, menjual tanah, hingga menerima keuntungan dari perusahaan yang beroperasi di Papua Selatan.
Mandagi menegaskan seluruh tuduhan tersebut tidak benar dan menyesatkan. Ia menilai film itu menggiring opini publik seolah-olah gereja terlibat dalam praktik yang merugikan masyarakat dan lingkungan.
Selain itu, ia menyoroti proses produksi film yang dianggap tidak berimbang karena pihak Keuskupan Agung Merauke tidak pernah dimintai klarifikasi secara langsung.
“Kenapa tidak datang bertanya langsung kepada uskup atau pastor yang bekerja di lapangan? Mengapa hanya mengambil sudut pandang pihak tertentu?” katanya.
Mandagi juga menyayangkan minimnya keterlibatan tokoh gereja dan masyarakat lokal yang selama ini hidup bersama warga di Papua Selatan. Menurutnya, mereka seharusnya diberi ruang untuk menyampaikan pandangan agar informasi yang disajikan lebih utuh dan adil.
Ia menilai isu lingkungan dan pembangunan di Papua merupakan persoalan sensitif yang harus disampaikan secara berimbang, bukan melalui narasi sepihak yang berpotensi memicu kesalahpahaman.
Di akhir pernyataannya, Mandagi mengajak masyarakat untuk tidak langsung mempercayai seluruh isi film tanpa melihat fakta secara menyeluruh. Ia menegaskan pentingnya menjaga objektivitas dalam membahas persoalan Papua dan pembangunan nasional. (kls)
















Komentar
Tuliskan Komentar Anda!