Judul: Harga Plastik Melonjak, Dunia Usaha Tertekan dan PHK Mengintai

Judul: Harga Plastik Melonjak, Dunia Usaha Tertekan dan PHK Mengintai

Jakarta, kameranusantara.id – Lonjakan harga bahan baku plastik akibat konflik di Timur Tengah mulai menekan dunia usaha dalam negeri. Kalangan industri memperingatkan risiko pengurangan tenaga kerja jika kondisi ini terus berlanjut.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia, Shinta Kamdani, menyebut sektor yang paling terdampak adalah industri yang bergantung pada kemasan, seperti makanan dan minuman, FMCG, farmasi, logistik, hingga ritel.

Menurutnya, kenaikan harga plastik sudah jauh melampaui batas normal, bahkan dalam beberapa kasus mencapai lebih dari dua kali lipat. Kondisi ini diperparah oleh terbatasnya pasokan bahan baku di pasar global.

“Komponen plastik bisa menyumbang hingga 20–40 persen biaya produksi, bahkan lebih tinggi pada produk tertentu. Kenaikan ini langsung mendorong biaya produksi secara keseluruhan,” ujarnya.

Tekanan biaya tersebut menempatkan pelaku usaha dalam dilema. Di satu sisi, mereka harus menjaga harga jual agar tetap terjangkau bagi konsumen. Namun di sisi lain, beban produksi terus meningkat, terutama bagi UMKM dan industri dengan margin tipis.

Shinta menjelaskan, dalam tahap awal perusahaan akan melakukan efisiensi, seperti mengurangi jam kerja, menekan lembur, hingga menunda ekspansi. Namun jika tekanan berlangsung lama, dampaknya bisa meluas hingga pemutusan hubungan kerja (PHK), khususnya di sektor padat karya.

“Risiko terhadap tenaga kerja menjadi nyata jika kondisi ini terus berlarut,” katanya.

Untuk meredam dampak, dunia usaha meminta pemerintah segera memastikan ketersediaan bahan baku dan energi dengan harga yang kompetitif, serta memperlancar distribusi pasokan yang saat ini terganggu.

Selain itu, pemerintah juga didorong memperketat pengawasan rantai pasok guna mencegah spekulasi harga, serta mengadopsi kebijakan stabilisasi seperti yang diterapkan di Thailand.

Di sisi lain, Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan pemerintah tengah mencari sumber impor alternatif bahan baku plastik, khususnya nafta, dari negara seperti India, Amerika Serikat, dan kawasan Afrika.

Ia berharap langkah tersebut dapat menekan harga dalam waktu dekat, meski proses pengadaan masih terkendala distribusi global akibat konflik yang berlangsung.

Pemerintah juga membuka peluang mencari pasokan dari negara lain, mengingat Indonesia harus bersaing dengan sejumlah negara industri seperti Korea Selatan, Vietnam, dan Singapura dalam mendapatkan bahan baku. (kls)

Jika tidak segera diatasi, lonjakan harga plastik dikhawatirkan tidak hanya menekan industri, tetapi juga berdampak pada daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi secara keseluruhan. (kls)

Olahraga

Konflik Global Memanas, FIFA Tetap Targetkan Piala Dunia 2026 Diikuti Semua Negara

Konflik Global Memanas, FIFA Tetap Targetkan Piala Dunia 2026 Diikuti Semua Negara

Jakarta, Kamerranusantara.id- Meski dinamika geopolitik global tengah memanas, badan sepak bola dunia FIFA menegaskan keinginannya agar Iran tetap

Advertisement