Jakarta, kamerausatara.id - Presiden Prancis, Emmanuel Macron, menyatakan negaranya bersama sekutu tengah mempersiapkan langkah untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, yang saat ini berada dalam pengawasan ketat Iran.
Pernyataan tersebut disampaikan Macron saat melakukan kunjungan ke Siprus pada Senin (10/3/2026). Dalam kunjungan itu, ia juga sempat berada di atas kapal induk militer Prancis Charles de Gaulle.
Macron menegaskan jalur pelayaran di Selat Hormuz memiliki peran vital bagi perdagangan global, terutama dalam distribusi energi dari kawasan Teluk.
“Selat ini sangat penting bagi perdagangan internasional serta arus minyak dan gas yang keluar dari wilayah Teluk,” ujar Macron seperti dikutip dari AFP.
Didukung Yunani dan Siprus
Dalam kesempatan tersebut, Macron juga menggelar pertemuan dengan Presiden Siprus, Nikos Christodoulides, serta Perdana Menteri Yunani, Kyriakos Mitsotakis.
Kedua negara tersebut disebut mendukung rencana Prancis untuk memastikan jalur pelayaran strategis itu tetap terbuka bagi perdagangan internasional.
Macron juga menyatakan bahwa Uni Eropa siap meningkatkan operasi keamanan maritim di kawasan Timur Tengah melalui penguatan kehadiran angkatan laut.
Selat Hormuz Dijaga Ketat Iran
Saat ini, Selat Hormuz berada di bawah pengawasan ketat Iran. Jalur pelayaran tersebut tidak sepenuhnya ditutup, namun akses kapal-kapal yang melintas dikendalikan oleh otoritas Iran.
Beberapa laporan menyebutkan kapal yang tidak memperoleh izin melintas berisiko dicegah atau bahkan diserang, sehingga banyak perusahaan pelayaran dan operator kapal tanker memilih menunda perjalanan mereka.
Pembatasan tersebut diberlakukan Iran sebagai langkah pengamanan kawasan setelah meningkatnya ketegangan militer dengan Amerika Serikat dan Israel.
Konflik Timur Tengah Memicu Ketegangan Jalur Energi
Ketegangan meningkat sejak serangan militer yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap sejumlah wilayah Iran pada akhir Februari lalu.
Serangan tersebut memicu respons keras dari Teheran yang kemudian menargetkan sejumlah fasilitas dan pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Sebagai dampaknya, lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz—salah satu jalur distribusi minyak paling penting di dunia—menjadi terbatas dan meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global. (kls)
















Komentar
Tuliskan Komentar Anda!