Jakarta, kameranusantara.id - Presiden Prabowo Subianto berencana menyampaikan taklimat khusus kepada masyarakat Indonesia dalam waktu dekat. Penjelasan tersebut akan memuat gambaran situasi global yang tengah bergejolak serta langkah-langkah yang perlu dipersiapkan pemerintah dan masyarakat menghadapi berbagai dampaknya.
Rencana itu disampaikan Presiden saat meresmikan 218 jembatan secara virtual yang disiarkan melalui kanal Sekretariat Presiden. Dalam kesempatan tersebut, Prabowo menyoroti meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang dinilai dapat memengaruhi stabilitas ekonomi dan keamanan dunia.
Konflik di kawasan itu mencuat setelah eskalasi militer yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
“Akibat perang di Timur Tengah, kita harus bersiap menghadapi berbagai kesulitan. Dalam waktu dekat saya akan memberikan taklimat kepada seluruh bangsa Indonesia,” kata Prabowo.
Dunia Hadapi Ketidakpastian
Menurut Presiden, dinamika global saat ini berada dalam fase ketidakpastian yang tinggi. Persaingan dan konflik antarnegara besar berpotensi menimbulkan dampak luas bagi negara-negara lain, termasuk Indonesia.
Ia menegaskan pemerintah terus memantau perkembangan situasi internasional secara intensif, termasuk menelaah berbagai indikator ekonomi untuk menentukan langkah yang tepat dalam menghadapi kemungkinan krisis.
Meski mengakui adanya potensi tekanan ekonomi, Prabowo optimistis Indonesia mampu melewati situasi tersebut. Ia menilai kekayaan sumber daya alam serta potensi ekonomi nasional dapat menjadi modal penting untuk keluar dari krisis dengan kondisi yang lebih kuat.
Ketahanan Pangan dan Energi Jadi Prioritas
Dalam kesempatan yang sama, Presiden juga menekankan pentingnya memperkuat ketahanan nasional, terutama pada sektor pangan dan energi.
Ia menyampaikan bahwa upaya menuju swasembada pangan yang selama ini didorong pemerintah mulai menunjukkan hasil nyata, terutama dalam produksi beras. Pemerintah juga menargetkan peningkatan produksi pangan lainnya untuk memenuhi kebutuhan protein dalam negeri.
Selain pangan, pemerintah terus mengembangkan kemandirian energi melalui pemanfaatan sumber daya domestik. Beberapa komoditas seperti kelapa sawit, singkong, jagung, dan tebu disebut memiliki potensi besar untuk diolah menjadi bahan bakar alternatif.
Presiden juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga persatuan serta terus bekerja keras menghadapi tantangan global.
Dampak Gejolak Global Mulai Terasa
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah telah memicu lonjakan harga minyak dunia yang kemudian berdampak pada perekonomian global. Tekanan tersebut turut memengaruhi nilai tukar rupiah yang pada perdagangan Senin (9/3) sempat menembus level Rp17.000 per dolar AS.
Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, menilai kenaikan harga minyak berpotensi memberikan tekanan besar terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Ia memperkirakan defisit anggaran negara dapat melebar hingga sekitar Rp314 triliun apabila tren kenaikan harga minyak global terus berlanjut. Menurut Bhima, kondisi tersebut berpotensi menjadi tekanan fiskal paling berat sejak pandemi COVID-19, sehingga pemerintah perlu menyiapkan langkah mitigasi sejak dini. (kls)
















Komentar
Tuliskan Komentar Anda!