MERAUKE, kameranusantara.id – Seorang nelayan Indonesia asal Merauke, Papua Selatan, dilaporkan tewas setelah ditembak oleh orang tak dikenal saat berada di perairan Papua Nugini. Hingga kini, jenazah korban bernama Risal yang merupakan tekong KM Sardi Utama belum diketahui keberadaannya.
Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Papua Selatan, Taufik Latarissa, mengatakan informasi kejadian tersebut diterima dari para nelayan pada 9 Juni 2026. Setelah dilakukan pengecekan kepada pemilik kapal, kabar penembakan itu dipastikan benar.
Menurut Taufik, beberapa jam sebelum insiden terjadi, pemilik kapal masih sempat berkomunikasi dengan korban dan seluruh anak buah kapal melalui radio. Saat itu kondisi mereka dilaporkan aman.
Berdasarkan keterangan saksi, sekitar lima orang menggunakan speedboat mendekati kapal nelayan tersebut. Mereka disebut mengenakan seragam lengkap dan membawa senjata laras panjang. Tak lama setelah merapat, terjadi penembakan yang mengenai korban hingga meninggal dunia di atas kapal.
Usai kejadian, korban dilaporkan dibawa menggunakan speedboat ke lokasi yang belum diketahui. Selain itu, hasil tangkapan ikan milik kapal juga disebut dirampas oleh kelompok penyerang.
"Identitas pelaku belum dapat dipastikan. Kami belum bisa menyimpulkan apakah mereka aparat keamanan, kelompok bersenjata, atau pihak lainnya karena informasi yang ada masih terbatas," ujar Taufik.
Saat peristiwa terjadi, terdapat delapan orang di atas kapal. Tujuh ABK lainnya dilaporkan selamat dan kini berupaya kembali ke Indonesia dengan mempertimbangkan situasi keamanan di lokasi.
Sementara itu, Kepala Badan Pengelola Perbatasan Daerah (BPPD) Merauke, Rekianus D. Samkakai, mengatakan pemerintah daerah telah melakukan koordinasi dengan berbagai pihak untuk menangani kasus tersebut.
Laporan telah disampaikan kepada Badan Nasional Pengelola Perbatasan, KBRI di Papua Nugini, Konsulat RI, hingga Konsulat Papua Nugini di Jayapura. Pemerintah juga terus berkomunikasi dengan keluarga korban, pemilik kapal, dan HNSI.
Menurut Rekianus, pihak KBRI dan Konsulat RI telah berkoordinasi dengan aparat keamanan setempat, termasuk militer dan kepolisian di wilayah Daru yang membawahi lokasi kejadian.
"Hingga saat ini belum ada informasi resmi mengenai keberadaan korban maupun perkembangan penyelidikan. Kami berharap koordinasi yang sedang berjalan dapat segera memberikan kejelasan," katanya.
Kasus ini kembali menyoroti risiko yang dihadapi nelayan Indonesia yang beroperasi di wilayah perbatasan Indonesia-Papua Nugini, sekaligus memunculkan kekhawatiran terkait aspek keamanan di kawasan tersebut. (kls)
















Komentar
Tuliskan Komentar Anda!