Jakarta,Kameranusantara.id - Provinsi Papua Barat bersiap menjadi tuan rumah penyelenggaraan The 12th International Flora Malesiana Symposium & International Nature Based Climate Solution Conference (NBCS) yang dijadwalkan berlangsung pada 9–14 Februari 2026 di Manokwari. Event ini diproyeksikan menghadirkan 250 hingga 300 peserta dari dalam dan luar negeri.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Papua Barat, Prof. Dr. Charlie D. Heatubun, S.Hut, M.Si, FLS menjelaskan pertemuan teknis perdana dilakukan di Manokwari untuk mematangkan kesiapan panitia. Simposium Flora Malesiana ke-12 merupakan kelanjutan rangkaian internasional yang sebelumnya digelar di sejumlah negara kawasan Malesiana.
“Isu yang dibahas lebih teknis, mulai dari status dan penyebaran tumbuhan di kawasan Malesiana, penelitian terbaru, mitigasi perubahan iklim, hingga dukungan ilmu pengetahuan terhadap kebijakan pembangunan,” ujar Prof. Heatubun usai rapat teknis di Manokwari, Rabu (21/1/2026).

Kepala BRIDA Papua Barat Prof. Dr. Charlie D. Heatubun, S.Hut, M.Si, FLS pimpin Rapat Teknis (Foto : rri/ Elko)
Kawasan Malesiana mencakup Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Filipina, Timor Leste, Papua Nugini, dan Kepulauan Solomon. Hasil penelitian yang dipresentasikan akan digunakan untuk pengembangan ilmu pengetahuan, mitigasi perubahan iklim, hingga perlindungan keanekaragaman hayati.
Selain konferensi ilmiah, panitia menyiapkan rangkaian Papua Biocultural Enrichment Week berupa pemutaran film konservasi, pameran foto, pameran poster, serta workshop jurnalisme lingkungan bekerja sama dengan National Geographic Indonesia dan Rekam Nusantara. Kegiatan edukasi publik untuk pelajar juga disiapkan.
Prof. Heatubun menegaskan event ini berpotensi mendukung pembangunan berkelanjutan di Papua Barat. Selain memperkuat diplomasi lingkungan, event internasional ini diharapkan membuka peluang inisiatif pendanaan iklim, peningkatan ekonomi berbasis komoditas unggulan, serta promosi wisata alam daerah.
“Kolaborasi menjadi kunci. Kita bekerja bersama pemerintah daerah, mitra pembangunan, akademisi, komunitas, hingga sektor wisata agar manfaatnya terasa luas,” ujarnya.
Event juga akan membahas rencana pembentukan asosiasi provinsi yang memiliki hutan di Indonesia serta menentukan lokasi Flora Malesiana Symposium ke-13.
Sumber : rri.co.id
















Komentar
Tuliskan Komentar Anda!