Jakarta, kameranusantara,id - Komunitas Papua Connection menyerukan penghentian seluruh aksi kekerasan bersenjata di Tanah Papua, khususnya yang menyasar warga sipil, guru, dan tenaga kesehatan. Seruan itu disampaikan dalam Dialog Kebangsaan dan Deklarasi Papua Connection di Jakarta, Rabu (25/2/2026).
Inisiator Papua Connection, Charles Kossay, menegaskan bahwa keselamatan guru dan tenaga kesehatan merupakan isu kemanusiaan yang tidak bisa ditawar. Menurutnya, mereka adalah ujung tombak pelayanan publik yang seharusnya dilindungi, bukan menjadi sasaran kekerasan.
“Serangan terhadap guru, tenaga kesehatan, dan warga sipil adalah bentuk teror terhadap kemanusiaan. Ini merusak harapan masa depan Papua,” ujar Charles.
Ia menilai persoalan Papua tidak dapat dipisahkan antara aspek keamanan, pembangunan, dan hak asasi manusia. Ketiganya harus dipandang sebagai satu kesatuan dalam merumuskan solusi jangka panjang.
Papua Connection juga menyatakan penolakan terhadap provokasi, disinformasi, serta politisasi identitas, termasuk yang memanfaatkan sentimen keagamaan. Langkah tersebut dinilai berpotensi memperkeruh situasi dan merugikan masyarakat Papua sendiri.
Selain mengecam kekerasan, Papua Connection mendorong pembangunan yang berkeadilan dan inklusif, termasuk pelaksanaan Proyek Strategis Nasional (PSN) di Papua secara partisipatif dan sesuai amanat Pasal 33 UUD 1945.
Charles menyatakan optimisme bahwa pembangunan yang berpihak pada masyarakat Papua dapat terwujud jika dijalankan dengan niat dan tujuan yang jelas untuk kemajuan orang asli Papua.
Melalui deklarasi tersebut, Papua Connection menegaskan komitmennya menjaga nilai kemanusiaan, melindungi warga sipil, serta memperkuat persatuan nasional. Mereka menegaskan Papua merupakan bagian sah dari Negara Kesatuan Republik Indonesia dan masa depan Papua adalah bagian dari masa depan Indonesia















Komentar
Tuliskan Komentar Anda!