JAKARTA, kameranusantara.id – Pelaku industri ritel nasional mengandalkan peningkatan wisata belanja dan konsumsi domestik untuk menjaga kinerja usaha di tengah ketidakpastian ekonomi global, fluktuasi nilai tukar rupiah, serta potensi perlambatan daya beli masyarakat pada paruh kedua 2026.
Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo), Budihardjo Iduansjah, mengatakan sektor ritel masih mendapat dorongan dari momentum libur sekolah yang datang setelah periode puncak belanja saat Lebaran. Menurutnya, musim liburan menjadi peluang penting untuk mempertahankan jumlah pengunjung dan transaksi di pusat-pusat perbelanjaan.
“Setelah Lebaran biasanya terjadi penurunan aktivitas belanja, namun saat ini masih terbantu oleh musim liburan dan program yang mendorong kunjungan wisatawan,” ujarnya dalam peluncuran program BINA Holiday and Back to School 2026, Senin (8/6/2026).
Hippindo bersama pemerintah daerah dan sektor pariwisata terus mendorong pengembangan wisata belanja sebagai strategi meningkatkan konsumsi masyarakat. Di Jakarta, sekitar 40 persen omzet ritel disebut berasal dari aktivitas wisata, sehingga peningkatan jumlah wisatawan dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga pertumbuhan sektor tersebut.
Meski penguatan dolar AS mulai dirasakan sebagian pelaku usaha, terutama yang bergantung pada barang impor, dampaknya masih relatif terkendali karena banyak peritel telah melakukan pengadaan stok lebih awal. Namun, pelaku usaha tetap mewaspadai periode Agustus hingga November ketika aktivitas belanja musiman biasanya melambat.
Di tengah tantangan tersebut, Hippindo tetap optimistis pertumbuhan sektor ritel sepanjang tahun ini dapat berada di kisaran 5 hingga 9 persen.
Sementara itu, pemerintah menilai sektor perdagangan dan ritel memiliki peran strategis dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional. Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri menyebut konsumsi rumah tangga masih menjadi penggerak utama ekonomi Indonesia dengan kontribusi sekitar 54 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Untuk menjaga daya beli masyarakat, pemerintah terus memperkuat kolaborasi dengan pelaku usaha melalui berbagai program promosi, termasuk Gerakan Belanja di Indonesia Aja (BINA) yang mendorong penggunaan produk dalam negeri.
Menurut Dyah, peningkatan konsumsi tidak hanya menguntungkan ritel modern, tetapi juga memberikan dampak positif bagi UMKM, perajin, dan berbagai sektor pendukung lainnya dalam rantai pasok nasional.
Senada dengan itu, Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menilai pengembangan wisata belanja perlu terus diperkuat agar wisatawan tidak hanya berkunjung ke destinasi wisata, tetapi juga membeli produk unggulan daerah yang dapat meningkatkan perputaran ekonomi lokal.
Melalui program BINA Holiday and Back to School 2026 yang berlangsung hingga 12 Juli mendatang, pemerintah dan pelaku usaha berharap konsumsi masyarakat tetap terjaga, penjualan produk lokal meningkat, serta pertumbuhan ekonomi nasional dapat dipertahankan di tengah tantangan ekonomi global yang masih berlangsung. (kls)
















Komentar
Tuliskan Komentar Anda!