JJAKARTA, kameranusantar.id - Nama Benny Wenda kembali menjadi perbincangan setelah ia mengklaim diri sebagai “Presiden” Papua Barat. Di balik aktivitas politiknya di luar negeri, muncul pertanyaan mengenai bagaimana ia membiayai kegiatan advokasi sekaligus kehidupan pribadinya di Inggris.
Dalam sejumlah wawancara, Benny mengungkapkan bahwa aktivitasnya didukung donasi individu dari warga Inggris. Ia menyebut penggalangan dana dilakukan melalui sumbangan personal, termasuk dengan menjual karya musik bertema Papua serta tampil menyanyi untuk mengumpulkan donasi.
Saat ini Benny menetap di Oxford, Inggris. Ia memperoleh suaka politik dan kemudian mendapatkan izin tinggal tetap dari pemerintah Inggris. Pernyataan mengenai status tinggalnya sempat disampaikan oleh Wiranto ketika masih menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan.
Meski aktif menyuarakan isu Papua di forum internasional, Benny juga menghadapi penolakan dari sejumlah kelompok pro-kemerdekaan lainnya. Beberapa tokoh seperti Jeffrey Bomanak dari OPM, Victor Yeimo dari KNPB, hingga Forkorus Yaboisembut dari NFRPB pernah menyampaikan kritik terhadap kepemimpinannya. Mereka menilai pendekatan yang ditempuh Benny tidak mewakili seluruh elemen gerakan.
Kontroversi lain turut mewarnai perjalanan politiknya. Ia sempat diterpa tuduhan terkait pengelolaan dana sumbangan, meski isu tersebut menuai beragam respons. Pada 2012, namanya juga dikaitkan dengan polemik dugaan pemalsuan tanda tangan Jacob Prai dalam konteks internal organisasi.
Selain itu, pada 2017 Benny menyatakan telah menyerahkan petisi ke United Nations (PBB). Namun klaim tersebut dibantah oleh Ketua Komite Khusus Dekolonisasi PBB (C-24) saat itu, Rafael Ramirez, yang menyebut tidak menerima dokumen dimaksud. Pemerintah Indonesia melalui perwakilannya di PBB juga menyatakan tidak ada pengakuan resmi terhadap petisi tersebut.
Benny Wenda diketahui meninggalkan Indonesia setelah terjerat kasus hukum pada awal 2000-an. Ia melarikan diri dari tahanan pada 2002, sempat berada di Papua Nugini sebelum akhirnya memperoleh suaka di Inggris.
Rangkaian dinamika ini menunjukkan bahwa figur Benny Wenda tetap menjadi sosok kontroversial—baik di mata pemerintah Indonesia maupun di kalangan internal gerakan pro-kemerdekaan Papua sendiri. (kls)
















Komentar
Tuliskan Komentar Anda!