Kameranusantara.id - Panglima Kodam Iskandar Muda (Pangdam IM) Brigjen TNI Mahesa Fitriadi memastikan pihaknya tengah melakukan investigasi internal terkait bentrokan antara aparat TNI/Polri dan masyarakat saat penertiban bendera Bulan Bintang di Desa Pulo Keunari, Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie, Aceh.
"Kami masih mendalami secara internal, kami akan mengadakan investigasi," kata Brigjen TNI Mahesa Fitriadi, di Aceh Besar, Jumat.
Pernyataan tersebut disampaikan Mahesa dalam konferensi pers bersama Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Kumham Imipas) RI Yusril Ihza Mahendra serta Kapolda Aceh di ruang VIP Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar. Konferensi pers itu membahas bentrokan antara aparat TNI/Polri dan warga Desa Pulo Keunari.
Insiden bermula ketika personel TNI/Polri melakukan penertiban bendera Bulan Bintang dalam rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada Rabu (4/11). Kegiatan tersebut kemudian memicu bentrokan dengan masyarakat setempat.
Peristiwa itu mengakibatkan 14 warga menjadi korban. Sebanyak 13 orang mengalami luka-luka, sementara satu warga meninggal dunia akibat tertembak di bagian dada. Selain itu, enam personel TNI juga dilaporkan mengalami luka-luka.
Mahesa menyampaikan bahwa hasil investigasi akan diinformasikan kepada masyarakat setelah seluruh proses pemeriksaan selesai. Ia menegaskan bahwa pendalaman masih membutuhkan waktu.
"Kalau nanti sudah ada hasilnya, tentu kami beritahu, tentunya dalam dua hari ini kami belum bisa, karena ada proses yang kami lakukan," ujarnya.
Menurut Mahesa, sebanyak 272 personel dikerahkan dalam kegiatan penertiban tersebut. Namun, tidak seluruh anggota membawa senjata karena penggunaannya hanya diperuntukkan sebagai sarana memberikan peringatan.
Ia menjelaskan bahwa personel TNI sebelumnya telah memberikan penjelasan kepada masyarakat mengenai penertiban bendera. Namun, situasi berubah setelah aparat mendapat lemparan batu dari berbagai arah, yakni depan, belakang, kiri, dan kanan.
Menghadapi kondisi tersebut, Komandan Kodim (Dandim) memerintahkan personel untuk mundur. Akan tetapi, menurut Mahesa, masyarakat masih melakukan pengejaran terhadap aparat.
Personel kemudian melepaskan tembakan peringatan menggunakan peluru hampa dan peluru karet ke arah atas. Mahesa menegaskan bahwa tembakan tersebut tidak diarahkan kepada warga.
"Mungkin dengan efek bunyi, saudara-saudara kita bisa menahan diri. Begitu yang saya sampaikan, saya meyakini dan pertanggungjawabkan, tidak ada satu butir pun munisi tajam," katanya.
Untuk kepentingan investigasi, seluruh anggota yang terlibat dalam penertiban belum dikembalikan ke satuan masing-masing. Mereka masih dikonsolidasikan di Kodim Pidie agar proses pemeriksaan dapat dilakukan lebih lanjut.
Selain personel, senjata yang digunakan dalam kegiatan tersebut juga telah dipisahkan untuk mengidentifikasi senjata yang meletus saat pemberian tembakan peringatan.
Tim internal TNI juga dijadwalkan turun langsung ke tempat kejadian perkara (TKP) dalam waktu dekat guna mendalami kronologi dan fakta-fakta insiden tersebut.
Mahesa berharap masyarakat Kecamatan Tiro dapat memahami proses pemeriksaan yang sedang berlangsung serta turut menjaga situasi keamanan agar tetap kondusif.
"Kami mohon untuk seluruh masyarakat khususnya di Tiro, kami juga menghimbau untuk tidak panas, mari kita sama-sama menjaga situasi yang aman, tertib, damai," tutur Brigjen Mahesa Fitriadi.//anna
















Komentar
Tuliskan Komentar Anda!