PANDEGLANG, kameranusantara.id – Tim SAR gabungan memperluas pencarian terhadap delapan orang yang hilang kontak saat menuju kawasan Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda. Lima dari delapan orang tersebut merupakan wartawan yang hendak meliput aktivitas erupsi.
Memasuki hari kedua pencarian, area operasi dibagi menjadi empat Search and Rescue Unit (SRU) untuk memperbesar cakupan penyisiran di laut.
Kasubsie Operasi dan Siaga Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten Rizky Dwianto mengatakan masing-masing SRU menggunakan armada berbeda sesuai wilayah pencarian yang telah ditentukan.
SRU 1 mengoperasikan KN SAR Tetuka 247 dengan rencana penyisiran 68,3 mil laut, sedangkan SRU 2 menggunakan KAL Anyer dengan cakupan 69,5 mil laut. Keduanya menyisir dengan jarak antarjalur sekitar 3 mil laut.
SRU 3 mengerahkan RIB 01 Lampung untuk menyisir area sepanjang 67 mil laut dengan jarak antarjalur 1 mil laut. Sementara SRU 4 menggunakan RIB 02 Banten untuk mencari di sekitar Pulau Rakata dan Pulau Panjang.
Operasi melibatkan Basarnas Banten dan Lampung, TNI-Polri, pemerintah daerah, nelayan, Balawista, serta masyarakat. Berbagai peralatan juga dikerahkan, termasuk kapal SAR, kapal patroli, perahu karet, drone termal, dan perlengkapan medis serta komunikasi.
Delapan orang yang masih dicari terdiri atas kapten kapal Warta (55), ABK Surakman (60), pemandu wisata Heriyanto (49), serta lima jurnalis, yakni M. Bagus Khoirunnas dari Antara, Ari Basuki dari Merdeka, Yudhis dari iNews, Daus dari Anadolu, dan Donal yang merupakan jurnalis lepas.
Rombongan berangkat dari Dermaga Marina Lippo Carita, Kabupaten Pandeglang, pada Senin (7/9/2026) sekitar pukul 14.00 WIB untuk meliput erupsi Gunung Anak Krakatau. Rombongan semula dijadwalkan kembali pada hari yang sama.
Kontak terakhir diketahui terjadi pada sore hari. Seorang pemandu wisata sempat mengirim foto Gunung Anak Krakatau kepada istrinya sekitar pukul 18.13 WIB. Setelah itu, rombongan tidak lagi dapat dihubungi.
Pencarian juga diperluas ke sejumlah wilayah perairan, termasuk sekitar Pulau Sebesi, Pulau Legundi, Pulau Rakata, Pulau Panjang, hingga kawasan Gunung Anak Krakatau. Warga Pulau Sebesi turut membantu pencarian, tetapi belum menemukan petunjuk keberadaan rombongan.
Pencarian melalui udara belum menjadi pilihan utama karena aktivitas erupsi masih berlangsung dan sebaran abu vulkanik menjadi salah satu pertimbangan keselamatan penerbangan. Untuk sementara, operasi lebih difokuskan melalui jalur laut.
Kapolda Banten Irjen Hengki mengatakan keselamatan tim SAR tetap menjadi perhatian selama operasi berlangsung. Ia juga mengingatkan masyarakat dan pengguna transportasi laut untuk tidak mendekati Gunung Anak Krakatau dalam radius tiga kilometer sesuai imbauan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Polda Banten telah menyiapkan pos antemortem sebagai bagian dari kesiapsiagaan identifikasi apabila dibutuhkan. Sementara itu, seluruh unsur SAR diminta terus berkoordinasi dan melaporkan setiap perkembangan pencarian.
Hingga Rabu (9/9/2026), delapan orang tersebut masih dalam pencarian dan belum ditemukan. (kls)
















Komentar
Tuliskan Komentar Anda!