JAKARTA, kameranusantara.id – Pernyataan terbaru tokoh reformasi Amien Rais terhadap lingkaran kekuasaan Presiden Prabowo Subianto kembali memicu perdebatan publik. Kritik tersebut dinilai sebagian kalangan sebagai alarm politik terhadap jalannya pemerintahan, sementara pihak lain menilai polemik mulai bergeser ke isu personal.
Sorotan itu mencuat dalam diskusi bertajuk Obrolan Sabtu Seru: Antara Prabowo, Teddy & Amien Rais yang digelar komunitas Obor Rakyat Reborn di Jakarta, Sabtu (9/5/2026).
Majelis Syuro Partai Ummat, Idrus Sambo, mengungkapkan hubungan Amien Rais dan Prabowo telah terjalin sejak sebelum Reformasi 1998. Menurut dia, Amien merupakan salah satu tokoh yang konsisten mendukung Prabowo sejak Pilpres 2014 hingga 2019.
“Pak Amien sejak awal melihat Prabowo punya visi kebangsaan yang kuat. Karena itu beliau terus memberi dukungan dan masukan,” ujar Idrus.
Namun, setelah Prabowo masuk pemerintahan Jokowi hingga kini memimpin sebagai presiden, Amien disebut mulai melontarkan kritik karena menilai arah politik pemerintah berubah dari harapan awal.
Idrus juga menyinggung video Amien Rais berjudul Awasi Teddy yang diunggah beberapa waktu lalu. Dalam video itu, Amien mengingatkan soal potensi “ranjau politik” di sekitar Presiden.
Menurut Idrus, kritik keras yang disampaikan Amien bertujuan agar Presiden tetap mendengar aspirasi publik dan tidak terjebak kepentingan kelompok tertentu.
Sementara itu, Guru Besar Hukum Universitas Al Azhar Indonesia, Supardi J Ahmad, menilai kritik Amien masih berada dalam koridor kebebasan berpendapat dan belum tentu memenuhi unsur pidana.
“Kalau kritik itu bentuknya peringatan atau masukan untuk kepentingan publik, maka tidak mudah diproses secara hukum,” kata Supardi.
Ia menjelaskan, dugaan pencemaran nama baik maupun ujaran kebencian harus dibuktikan dengan unsur niat jahat dan laporan langsung dari pihak yang merasa dirugikan.
Di sisi lain, Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion, Dedi Kurnia Syah, menilai polemik tersebut menunjukkan masyarakat kini terbelah antara kelompok pendukung pemerintah dan pihak yang tetap kritis terhadap kekuasaan.
Menurut Dedi, ruang kritik terhadap kebijakan pemerintah sebenarnya masih terbuka luas, mulai dari isu pangan hingga tata kelola kabinet. Namun, perhatian publik justru banyak tersedot pada isu personal.
“Akibatnya evaluasi terhadap kebijakan publik menjadi kurang mendapat perhatian,” ujarnya.
Polemik ini bermula setelah Amien Rais melontarkan sejumlah pernyataan terkait sosok di lingkar dekat Presiden Prabowo, termasuk menyentuh ranah pribadi Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. Pernyataan itu kemudian memicu kontroversi dan wacana pelaporan hukum dari sejumlah pihak. (kls)
















Komentar
Tuliskan Komentar Anda!