Jakarta, Kameranusantara.id - Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan sedang mempertimbangkan berbagai opsi untuk memberi tekanan kepada Iran tanpa harus langsung melancarkan serangan militer terbuka. Informasi tersebut disampaikan oleh stasiun televisi CBS News.
Dalam laporan itu dijelaskan, sejumlah langkah yang dikaji mencakup operasi siber hingga upaya melemahkan stabilitas internal pemerintahan Iran. Pendekatan ini dinilai sebagai bentuk tekanan non-konvensional yang dapat ditempuh sebelum opsi militer secara terbuka digunakan.
Meski demikian, Trump disebut tetap membuka seluruh kemungkinan respons, termasuk serangan udara serta penggunaan rudal jarak jauh yang masih dipandang sebagai bagian dari skenario militer terhadap Iran.
Pada akhir Desember lalu, Trump secara terbuka menyatakan kesiapannya mendukung serangan lanjutan ke Iran jika Teheran terus melanjutkan pengembangan program nuklir dan rudal balistik.
Sikap tegas tersebut muncul di tengah gelombang demonstrasi besar yang melanda Iran. Trump bahkan menyampaikan ancaman akan melakukan serangan berskala besar apabila aksi protes tersebut menimbulkan korban jiwa, sembari menyatakan dukungannya terhadap rakyat Iran.
Gelombang unjuk rasa di Iran mulai mencuat sejak akhir Desember 2025. Aksi tersebut dipicu oleh kekhawatiran publik terhadap melonjaknya inflasi akibat melemahnya nilai tukar rial, yang berdampak langsung pada kenaikan harga barang di tingkat grosir maupun eceran.
Tekanan publik turut mengarah kepada Gubernur Bank Sentral Iran Mohammad Reza Farzin, yang akhirnya memilih mengundurkan diri di tengah menurunnya kepercayaan terhadap kebijakan moneter pemerintah.
Situasi semakin memanas sejak 8 Januari, setelah Reza Pahlavi—putra Shah Iran yang digulingkan pada 1979—menyerukan perlawanan terbuka. Pada hari yang sama, pemerintah Iran memutus akses internet secara nasional.
Di sejumlah kota, aksi protes berkembang menjadi bentrokan dengan aparat keamanan. Massa menyuarakan slogan-slogan anti-pemerintah, sementara laporan menyebutkan adanya korban jiwa dari kedua belah pihak.
Namun demikian, otoritas Iran pada 12 Januari menyatakan bahwa kondisi dalam negeri telah kembali berada dalam kendali pemerintah. (hni)
















Komentar
Tuliskan Komentar Anda!