Jakarta, kameranusantara.id - Sejumlah negara di Asia kembali mengandalkan batu bara untuk menjaga pasokan listrik di tengah terganggunya suplai energi dari Timur Tengah. Langkah ini diambil sebagai respons cepat atas krisis, namun memicu kekhawatiran akan terhambatnya transisi menuju energi bersih.
Gangguan pasokan, terutama gas alam cair (LNG), terjadi akibat konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Penutupan jalur strategis seperti Selat Hormuz serta serangan terhadap fasilitas energi di kawasan tersebut memperparah kondisi, membuat banyak negara kekurangan energi dalam waktu singkat.
Untuk menutup celah pasokan, sejumlah negara mengambil langkah darurat. Korea Selatan menunda penutupan pembangkit listrik tenaga batu bara dan melonggarkan pembatasan produksinya. Thailand meningkatkan kapasitas pembangkit berbasis batu bara, sementara Filipina bahkan menetapkan status darurat energi nasional.
Di Asia Selatan, India menginstruksikan pembangkit batu bara beroperasi maksimal guna menjaga stabilitas listrik. Bangladesh juga meningkatkan produksi serta impor batu bara sejak Maret.
Lonjakan penggunaan batu bara dinilai sebagai solusi paling cepat dan murah dalam kondisi krisis. Namun, para ahli mengingatkan bahwa langkah ini berisiko memperpanjang ketergantungan pada energi fosil.
Analis energi menilai pasar global kini berubah drastis, dari kondisi surplus menjadi defisit dalam waktu singkat. Kekurangan pasokan LNG diperkirakan mencapai puluhan miliar meter kubik, dengan dampak terbesar dirasakan di kawasan Indo-Pasifik.
Pakar iklim menegaskan, krisis ini seharusnya menjadi momentum untuk mempercepat pengembangan energi terbarukan, bukan sebaliknya. Ketergantungan pada batu bara dinilai tidak berkelanjutan dan berpotensi menciptakan masalah jangka panjang, baik dari sisi lingkungan maupun ekonomi.
Selain meningkatkan produksi energi fosil, sejumlah negara juga mulai menerapkan langkah penghematan energi untuk menekan konsumsi di tengah ketidakpastian pasokan global.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa ketahanan energi tidak hanya soal ketersediaan pasokan jangka pendek, tetapi juga strategi jangka panjang dalam membangun sistem energi yang lebih bersih dan berkelanjutan. (kls)
















Komentar
Tuliskan Komentar Anda!