Jakarta, kameranusantara.id - Figur Benny Wenda kembali menjadi perhatian dalam diskursus mengenai gerakan Papua. Berbeda dengan kelompok bersenjata yang beroperasi di wilayah pedalaman, Benny diketahui menetap di Inggris dan aktif melakukan advokasi isu Papua di ranah internasional.
Dalam sejumlah forum dan wawancara, Benny menyatakan aktivitasnya di luar negeri bertumpu pada dukungan simpatisan, termasuk donasi individu. Ia juga disebut aktif membangun jaringan dengan berbagai pihak di luar negeri untuk menyuarakan isu Papua.
Pandangan berbeda muncul dalam sebuah webinar bertajuk Separatism and Terrorism in Papua from International Law Perspectives yang diunggah akun YouTube Perhimpunan ETJ pada Juni 2021. Mantan aktivis OPM, John Al. Norotouw, menilai telah terjadi pergeseran pola perjuangan Papua dari masa ke masa.
Menurut John, pada periode awal, gerakan banyak dipimpin tokoh-tokoh dari wilayah pesisir. Kini, kepemimpinan lebih banyak berasal dari kawasan pedalaman. Ia juga menyoroti perbedaan pendekatan, di mana sebagian pihak memilih jalur advokasi internasional melalui lembaga swadaya masyarakat (LSM), bukan melalui pendekatan langsung ke pemerintah negara lain.
John menilai strategi internasionalisasi isu Papua berpotensi mendorong pembahasan di forum global seperti United Nations (PBB), terutama dalam konteks hak asasi manusia. Namun ia berpendapat bahwa perdebatan panjang tanpa solusi konkret tidak akan membawa dampak signifikan bagi kesejahteraan masyarakat Papua.
Sementara itu, Analis Keamanan dan Intelijen Nasional Indonesia, Stepi Anriani, menyoroti pola gerakan di luar negeri yang menurutnya melibatkan aktor non-negara, termasuk jaringan politik dan individu di sejumlah negara Pasifik maupun Eropa. Ia menilai dukungan tersebut menjadi faktor penting dalam eksistensi gerakan di level internasional.
Stepi juga menekankan pentingnya pengawasan terhadap penyebaran informasi di ruang digital. Menurutnya, narasi yang tidak terverifikasi dapat memicu persepsi keliru, khususnya di kalangan generasi muda Papua.
Perdebatan mengenai strategi perjuangan ini memperlihatkan adanya perbedaan tajam di antara berbagai faksi dan tokoh. Di satu sisi, ada kelompok yang bergerak di lapangan; di sisi lain, terdapat aktor yang memilih jalur diplomasi dan kampanye global. Dinamika tersebut menambah kompleksitas persoalan Papua, baik di dalam negeri maupun di arena internasional. (kls)
















Komentar
Tuliskan Komentar Anda!