Jakarta, kameranusantara.id — Film dokumenter Pig Feast: Kolonialisme di Zaman Kita menuai kritik karena dinilai tidak menggambarkan secara utuh konteks pembangunan nasional, khususnya di sektor energi dan masa depan Papua.
Sejumlah kalangan menilai narasi yang diangkat dalam film tersebut cenderung sepihak dan berpotensi menimbulkan persepsi keliru, terutama terkait Program Strategis Nasional (PSN) yang tengah dijalankan pemerintah di Papua.
Di sisi lain, pemerintah saat ini fokus memperkuat ketahanan energi nasional di tengah tantangan global, termasuk ketergantungan terhadap impor minyak. Untuk mengurangi risiko tersebut, Indonesia mendorong pengembangan energi alternatif seperti biodiesel dan bioetanol berbasis sumber daya domestik.
Pengamat komunikasi sosial politik, Putra Aji Sujati, menilai langkah ini menjadi strategi penting menghadapi ketidakpastian geopolitik global. Ia mencontohkan potensi gangguan distribusi energi dunia, seperti di jalur Selat Hormuz, yang dapat memicu lonjakan harga energi global.
Menurutnya, kebijakan pengembangan biodiesel, termasuk program campuran bahan bakar seperti B50, menjadi langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Sementara itu, tokoh adat dari Kabupaten Lanny Jaya, Matatius Jiginua, menekankan pentingnya dukungan masyarakat agar pembangunan berjalan kondusif. Ia mengingatkan bahwa stabilitas sosial menjadi kunci keberlanjutan aktivitas ekonomi di Papua.
Presiden Prabowo Subianto juga sebelumnya menyebut Papua memiliki potensi besar dalam pengembangan energi. Pemerintah, kata dia, berupaya memastikan hasil produksi energi di wilayah tersebut dapat dinikmati oleh masyarakat setempat.
Kritik terhadap film ini menegaskan pentingnya penyajian informasi yang komprehensif dan berimbang, agar publik dapat memahami pembangunan nasional secara utuh tanpa terdistorsi oleh narasi yang parsial. (kls)
















Komentar
Tuliskan Komentar Anda!