Harga minyak dunia berpotensi mengalami kenaikan
menyusul meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap pasokan global setelah
Amerika Serikat (AS) menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Presiden AS
Donald Trump menyatakan Washington akan mengambil alih kendali negara produsen
minyak tersebut.
Meski demikian, para analis menilai dampak gangguan
pasokan Venezuela terhadap harga minyak global masih terbatas dalam jangka
pendek. Pasokan minyak dunia saat ini dinilai masih cukup untuk menahan
lonjakan harga yang signifikan.
Dikutip dari Reuters, Senin (5/1/2026), sumber yang
mengetahui operasional perusahaan minyak negara Venezuela, PDVSA, menyebutkan
bahwa aksi AS tidak merusak fasilitas produksi maupun kilang minyak. Namun,
ekspor minyak Venezuela sejak Januari 2026 dilaporkan terhenti akibat blokade
kapal tanker oleh AS serta penyitaan kargo minyak pada akhir 2025.
Kebijakan tersebut membuat ekspor minyak Venezuela
merosot tajam, dari sekitar satu juta barel per hari (bph) pada November
menjadi sekitar 500.000 bph pada Desember 2025. Sebagian besar pengapalan
Desember dilakukan sebelum embargo diberlakukan penuh.
Saat ini, hanya perusahaan energi Chevron yang masih
diizinkan memproduksi dan mengekspor minyak dari Venezuela, dengan volume
sekitar 100.000 bph, berdasarkan izin khusus pemerintah AS. Keterbatasan
fasilitas penyimpanan memaksa PDVSA mengurangi produksi, sementara sejumlah
ladang minyak dilaporkan berhenti beroperasi sementara.
Trump menegaskan embargo minyak terhadap Venezuela
tetap diberlakukan. Namun, jika kebijakan tersebut dilonggarkan, sejumlah
kilang di kawasan Teluk AS berpotensi kembali menerima pasokan minyak dari
Venezuela.
Kepala Ekonom Capital Economics, Neil Shearing,
menilai gangguan pasokan Venezuela tidak akan banyak mengubah peta pasar minyak
global. Menurutnya, penurunan produksi Venezuela dapat diimbangi oleh
peningkatan produksi dari negara lain. Selain Venezuela, ancaman intervensi AS
terhadap Iran turut menambah risiko geopolitik. Kondisi ini dinilai berpotensi
mendorong harga minyak naik, meski dalam batas terbatas.
Kepala Riset Komoditas Saxo Bank, Ole Hansen,
memperkirakan kenaikan harga minyak akan tertahan oleh melimpahnya pasokan
global. Di sisi lain, OPEC dan negara mitranya (OPEC+) memutuskan
mempertahankan tingkat produksi pada kuartal pertama 2026 setelah sebelumnya
menaikkan target produksi hampir 3 juta bph sepanjang 2025. (kls)
















Komentar
Tuliskan Komentar Anda!