Pemimpin Oposisi Kepulauan Solomon Angkat Insiden Berdarah di Dogiyai

Pemimpin Oposisi Kepulauan Solomon Angkat Insiden Berdarah di Dogiyai

Jakarta, Kameranusantara.id - Pemimpin oposisi Kepulauan Solomon, Matthew Wale, menyatakan keprihatinan mendalam atas laporan pembunuhan warga sipil di Tanah Papua, khususnya di kabupaten Dogiyai, di mana nyawa warga Melanesia telah lenyap di ujung bedil aparat keamanan.

Mathheuw Wale mengatakan, laporan tentang pembunuhan tersebut, termasuk seorang anak di bawah umur, sangat meresahkan dan menimbulkan pertanyaan serius tentang perlindungan komunitas Melanesia.

“Masyarakat Kepulauan Solomon memiliki ikatan sejarah, budaya, dan leluhur yang kuat dengan masyarakat Papua Barat, dan insiden seperti itu bergema di seluruh kawasan kita,” ujarnya, dilansir In-depth Solomons, Sabtu (4/4/2026).

Pemimpin oposisi Kepulauan Solomon menegaskan, keselamatan, martabat, dan hak asasi manusia seluruh warga Melanesia harus dijunjung tinggi setiap saat.

“Sesama orang Melanesia harus bersolidaritas dengan rakyat Papua Barat dan saya mendesak para pemimpin regional, khususnya para pemimpin Melanesia, untuk bersuara dan memastikan bahwa keadilan ditegakkan dan perdamaian abadi diprioritaskan,” ujar Wale.

Pada tanggal 31 Maret 2026, kekerasan militer meletus di kabupaten Dogiyai, Papua Tengah, mengakibatkan kematian sejumlah warga sipil dan setidaknya satu petugas polisi, menandai krisis baru di wilayah tersebut.

Dilaporkan, pasukan keamanan melepaskan tembakan setelah kematian seorang anggota polisi, menyebabkan beberapa korban sipil dan membuat warga setempat mengungsi ke daerah sekitarnya.


Rincian penting terkait insiden tersebut meliputi jatuhnya korban jiwa. Laporan menunjukkan setidaknya lima warga sipil Papua, termasuk seorang anak di bawah umur, tewas. Laporan awal menyebutkan total enam orang tewas segera setelah kejadian, dengan beberapa lainnya terluka.

Pemicu insiden berdarah tersebut sejak 31 Maret di Moanemani, di mana seorang petugas polisi Papua, Bripda Jufentus Edoway ditemukan tewas di dekat sebuah gereja.

Setelahnya muncul reaksi aparat keamanan menanggapi kematian polisi tersebut. Personel keamanan dilaporkan melepaskan tembakan ke sembarang arah, termasuk rumah-rumah warga di kampung Ikebo.

Akibat penyisiran dan penembakan memicu ketidakstabilan yang berlanjut. Situasi tetap tegang ketika masyarakat memblokir di area tersebut dan patroli ketat oleh pasukan keamanan.

Insiden ini mengikuti pola konflik intensitas tinggi di Dogiyai dan wilayah Papua Tengah umumnya, yang telah menyaksikan kekerasan berulang sepanjang tahun 2025 dan awal 2026 yang melibatkan konflik bersenjata, sengketa teritorial, dan tuduhan pelanggaran hak asasi manusia oleh pasukan keamanan. []

Olahraga

Konflik Global Memanas, FIFA Tetap Targetkan Piala Dunia 2026 Diikuti Semua Negara

Konflik Global Memanas, FIFA Tetap Targetkan Piala Dunia 2026 Diikuti Semua Negara

Jakarta, Kamerranusantara.id- Meski dinamika geopolitik global tengah memanas, badan sepak bola dunia FIFA menegaskan keinginannya agar Iran tetap

Advertisement