Radikalisme Jadi Ancaman Bersama, Akademisi Soroti Pentingnya Moderasi Beragama

Radikalisme Jadi Ancaman Bersama, Akademisi Soroti Pentingnya Moderasi Beragama

Kamernusantara.id - Bangsa Indonesia belakangan menghadapi tantangan serius berupa meningkatnya ancaman radikalisme, terorisme, serta berbagai tindakan intoleransi yang mengatasnamakan agama. Kondisi tersebut dinilai menjadi ancaman bersama yang harus dihadapi oleh negara maupun seluruh elemen masyarakat.

Akademisi IAIN Sultan Amai Gorontalo, Dr. H. Adnan, M.Ag, menilai bahwa upaya membendung berbagai ancaman tersebut memerlukan penguatan moderasi beragama sebagai arus utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurutnya, moderasi beragama dapat menjadi solusi dalam menjaga kemajemukan sekaligus menghadapi paham radikal, terorisme, dan tindakan intoleran.

Menurut Adnan, radikalisme menjadi salah satu akar persoalan dalam kehidupan keagamaan karena mengusung paham yang mendorong perubahan sosial dan politik secara ekstrem, bahkan melalui cara-cara kekerasan. Paham tersebut juga ditandai dengan sikap yang cenderung keras dan tidak menerima perbedaan.

“Moderasi beragama itu berarti cara beragama dengan jalan tengah, dengan Moderasi Beragama seseorang tidak ektrim dan juga tidak berlebih-lebihan dalam menjalani agamanya,” ucap Kang Adnan, sapaan akrab Dr. H. Adnan, M.Ag.

Ia menjelaskan bahwa seseorang yang menerapkan prinsip moderasi beragama disebut sebagai pribadi moderat. Dalam pandangannya, posisi moderat berada di tengah, tidak condong pada sikap berlebihan maupun ekstrem dalam menjalankan keyakinan.

“Orang yang mempraktekkan moderasi beragama disebut moderat, jika moderasi di tengah maka siapa yang di pinggir? maka orang yang di berlebih-lebihan dalam beragama seperti Syiah, liberal dan mu’tazillah sedangkan ekstrim seperi orang yang fanatik atau berpikir dan bertindak ekstrim, radikal dan konservatif,” tambah Kang Adnan yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Tanfidziyah PWNU Provinsi Gorontalo.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa moderasi beragama sangat penting diterapkan karena masyarakat Indonesia hidup dalam keberagaman yang merupakan bagian dari sunnatullah dan fitrah bangsa. Selain itu, Pancasila dinilai menjadi refleksi nilai-nilai asli masyarakat Indonesia yang religius dan majemuk.

“Dengan moderasi beragama, umat akan mengajarkan agama yang ramah, toleran dan sangat menghargai keberagaman,” ujar Adnan yang juga menjabat sebagai Ketua VIII Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Gorontalo.

Menurutnya, penguatan moderasi beragama tidak hanya berfungsi menjaga kerukunan antarumat beragama, tetapi juga menjadi benteng penting dalam mencegah berkembangnya paham radikal dan intoleran yang dapat mengancam persatuan bangsa. (*)

Olahraga

Klasemen Super League Memanas, Persib Masih Teratas Dikejar Borneo FC

Klasemen Super League Memanas, Persib Masih Teratas Dikejar Borneo FC

Jakarta, kameranusantara.id - Persaingan di Indonesia Super League kian sengit setelah pekan ke-28 rampung. Persib Bandung masih bertahan di puncak

Advertisement