Jakarta, kameranusantara.id - Nilai tukar rupiah diperkirakan menghadapi tekanan seiring meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Presiden Venezuela Nicolas Maduro ditangkap oleh Amerika Serikat (AS). Sentimen global tersebut dinilai dapat mengurangi minat investor terhadap aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan isu geopolitik akibat penangkapan Maduro berpotensi mendorong penguatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang, termasuk rupiah. “Rupiah berpeluang melemah karena kekhawatiran geopolitik membuat investor cenderung mencari aset aman, sehingga menekan mata uang emerging market,” ujar Lukman di Jakarta, Senin.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa negaranya telah melakukan operasi militer di Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores. Keduanya kemudian diterbangkan ke luar negeri dan kini ditahan di Amerika Serikat.
Sejumlah laporan media internasional menyebutkan adanya ledakan di Caracas saat operasi berlangsung. Pemerintah AS juga menyatakan mengambil alih kendali sementara di Venezuela guna menjaga stabilitas pascaoperasi tersebut.
Maduro dan istrinya kini menghadapi dakwaan federal di AS terkait dugaan perdagangan narkoba dan kerja sama dengan kelompok kriminal. Tuduhan tersebut telah dibantah oleh Maduro.
Meski demikian, Lukman menilai dampak isu Venezuela terhadap pasar keuangan, termasuk rupiah, kemungkinan tidak akan berlangsung lama. “Pasar cenderung bereaksi dalam jangka pendek. Dampaknya tidak terlalu signifikan,” katanya. Dengan kondisi tersebut, nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp16.650 hingga Rp16.800 per dolar AS dalam waktu dekat. (kls)
















Komentar
Tuliskan Komentar Anda!