Jakarta, kameranusantara.id - Perselisihan antara seorang anggota TNI AD dengan penjaga toko kelontong Adi Jaya di Jalan Kodam Raya, Kemayoran, Jakarta Pusat, berakhir damai secara kekeluargaan pada Senin. Insiden yang dipicu masalah pembayaran melalui QRIS ini sempat mengakibatkan perusakan fasilitas toko dan aksi pengeroyokan.
Kericuhan bermula pada Minggu (3/5/2026) sore saat Sertu AW hendak membeli rokok namun terkendala biaya administrasi pembayaran non-tunai, sebagaimana dilansir dari Megapolitan. Maya, seorang warga sekitar, menjelaskan bahwa keributan dipicu oleh biaya admin sebesar Rp 1.000 saat pelaku ingin menggunakan QRIS.
"Kejadiannya karena QRIS, setahu saya. Gara-gara QRIS," ujar Maya saat dijumpai Kompas.com di rumahnya, Selasa (5/5/2026).
Pemilik toko disebut telah memberikan penjelasan mengenai adanya potongan dari penyedia layanan digital tersebut. Maya menambahkan bahwa penjaga toko sempat memberikan alternatif pembayaran lain untuk menghindari biaya tambahan tersebut.
"Itu karena ada potongan dari adminnya dan segala macamnya," tutur Maya.
Penolakan tersebut memicu adu mulut hingga ancaman dari oknum prajurit yang mengaku sebagai anggota militer. Situasi semakin memanas ketika penjaga toko perempuan memberikan respons verbal yang memancing emosi pelaku.
"Penjaga toko juga sempat menyarankan agar pembayaran dilakukan secara tunai saja jika tidak mau ada biaya admin. Tapi pelakunya itu tidak bawa cash, sehingga dia cekcok," jelas Maya.
Ketegangan fisik mulai terjadi saat pelaku melayangkan pukulan ke arah penjaga toko. Maya menceritakan bahwa teriakan penjaga toko perempuan sempat menantang ancaman pelaku sebelum terjadi pemukulan.
"Dikatakan, 'Kalau kamu anggota, mau apa? Mau borgol saya?', gitu. Terus terjadi cekcok, ya sudah akhirnya marah-marah," tutur Maya.
Aksi kekerasan berlanjut ketika suami penjaga toko mencoba mengintervensi serangan tersebut. Pelaku yang sempat terjatuh kemudian menggunakan tabung gas 3 kg untuk merusak etalase dan mengejar penghuni toko.
"Mbak-mbak itu mengatakan 'jelek', 'dasar jelek' gitu," lanjut Maya.
Aksi pengrusakan dilakukan secara membabi buta terhadap berbagai inventaris toko kelontong tersebut. Pelaku dilaporkan menghancurkan tempat penyimpanan beras hingga pendingin es krim menggunakan tabung melon.
"Bangun lagi lalu mukul suaminya mbaknya tadi. Pukul-pukulan di situ. Habis itu mungkin dia belum puas, lalu ambil gas 3 kg langsung menghancurkan semuanya," jelas Maya.
Setelah insiden awal, pelaku kembali mendatangi lokasi bersama rekan-rekannya yang berjumlah lebih dari 10 orang. Kelompok tersebut kemudian melakukan pengeroyokan terhadap pria penjaga toko hingga mengalami luka-luka di sekujur tubuh.
"Oknumnya mengejar juga ke dalam buat hantam pakai gas. Jadi gontok-gontokan gitu di dalam," tutur Maya.
Pengeroyokan diduga terjadi akibat adanya informasi bahwa oknum TNI tersebut menjadi korban penusukan oleh pihak toko. Maya sempat melihat bukti luka pada bagian perut pelaku saat rekan-rekannya merusak kembali toko tersebut.
"Penjaga toko disuruh keluar, dipukuli. Dia luka-luka di muka, kaki dan badan yang saya lihat," ujar Maya.
Namun, informasi mengenai penusukan tersebut diragukan oleh warga setempat berdasarkan keterangan dari pihak toko. Luka tersebut diduga berasal dari benda tajam yang dibawa atau dipegang sendiri oleh pelaku saat keributan berlangsung.
"Terus akhirnya teman-temannya geram, langsung dihancurkan lagi (toko). Katanya sih dengar-dengar ada (penusukan)," kata Maya.
Klarifikasi mengenai kebenaran insiden ini juga disampaikan oleh pihak internal pemilik toko. Maya menekankan bahwa tidak ada tindakan penusukan yang dilakukan oleh penjaga toko sebagaimana dituduhkan.
"Cuma ternyata saya dengar dari orang dalamnya (pihak toko) enggak ada. Dia kena barang yang dia pegang sendiri, gunting atau apa gitu," imbuh Maya.
Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) Kolonel Inf Donny Pramono membenarkan terjadinya bentrokan antara prajuritnya dengan warga sipil. Ia mengidentifikasi prajurit yang terlibat dalam insiden tersebut adalah Sertu AW.
"Dapat kami sampaikan bahwa memang benar telah terjadi insiden keributan antara seorang prajurit TNI AD dengan warga sipil di lokasi tersebut," ujar Donny saat dikonfirmasi Kompas.com lewat pesan singkat, Selasa.
Pihak TNI AD menyatakan bahwa Sertu AW justru menjadi korban dalam peristiwa yang dipicu kesalahpahaman transaksi tersebut. Donny menegaskan adanya luka tusuk yang diderita oleh anggotanya akibat tindakan pemilik warung.
"Dalam peristiwa itu, justru prajurit TNI AD atas nama Sertu AW mengalami luka akibat penusukan oleh pemilik warung," kata Donny.
Sertu AW saat ini masih menjalani perawatan intensif di RS Hermina Kemayoran guna memulihkan kondisinya. Donny menambahkan bahwa eskalasi kerusakan di lokasi merupakan dampak dari situasi lapangan yang sudah memanas.
"Namun demikian, seluruh peristiwa ini saat ini telah ditangani oleh Polres Jakarta Pusat dan juga didalami oleh pihak terkait untuk memastikan fakta secara utuh," tutur Donny.
Masyarakat diminta untuk bersikap tenang dan tidak terpengaruh oleh informasi yang tersebar secara parsial di jagat maya. TNI AD menjamin adanya proses hukum yang adil bagi setiap prajurit yang terbukti melakukan pelanggaran prosedur.
"Saat ini situasi di lapangan sudah aman dan kondusif, serta kami juga terus berkoordinasi dengan aparat kepolisian agar penanganan berjalan dengan baik," kata Donny.
Kapolsek Kemayoran Kompol Agung Ardiansyah menegaskan tidak ada korban jiwa dalam bentrokan fisik di Sumur Batu tersebut. Penanganan kasus secara resmi telah dialihkan ke Polres Metro Jakarta Pusat untuk ditindaklanjuti.
"Kedua belah pihak sepakat berdamai secara kekeluargaan," ujar Agung saat dihubungi Kompas.com, Senin.
















Komentar
Tuliskan Komentar Anda!