TEHERAN, kameranusantara.id — Perang antara Amerika Serikat dan Iran yang juga melibatkan Israel memasuki hari kelima dengan dinamika baru. Washington dilaporkan tengah menjajaki kerja sama dengan kelompok oposisi Kurdi untuk memperkuat tekanan terhadap pemerintah Iran.
Laporan CNN menyebutkan pemerintahan Presiden Donald Trump sedang melakukan pembicaraan dengan sejumlah kelompok Kurdi terkait kemungkinan pemberian dukungan persenjataan. Namun hingga kini belum ada kepastian apakah kesepakatan telah tercapai.
Sejumlah pejabat AS menyatakan langkah tersebut bertujuan melemahkan kekuatan militer Iran sekaligus membuka ruang bagi gelombang protes domestik. Kelompok Kurdi juga dipandang dapat membantu menguasai wilayah utara Iran untuk menciptakan zona penyangga bagi Israel.
Seorang pejabat Kurdi mengungkapkan bahwa Trump bahkan disebut telah berbicara langsung dengan Mustafa Hijri, pemimpin Partai Demokrat Kurdistan Iran (KDPI), pada awal pekan ini.
Selain itu, media Axios melaporkan Trump juga menjalin komunikasi dengan dua tokoh Kurdi berpengaruh di Irak, yakni Masoud Barzani dari Partai Demokrat Kurdistan dan Bafel Talabani dari Persatuan Patriotik Kurdistan (PUK). Talabani telah mengonfirmasi adanya percakapan telepon tersebut, meski tidak merinci isi pembahasan.
Dalam pernyataan resminya, PUK menyebut pembicaraan itu berkaitan dengan peluang memperkuat kemitraan strategis antara AS dan Irak.
Sejumlah pengamat menilai langkah Washington ini bukan hal baru. Selama beberapa dekade, AS kerap memberikan dukungan kepada kelompok oposisi di Timur Tengah sebagai bagian dari strategi geopolitik.
Kelompok Kurdi sendiri merupakan etnis minoritas yang tersebar di sejumlah negara kawasan seperti Turki, Suriah, Irak, dan Iran. Mereka memiliki bahasa dan budaya yang sama, namun hingga kini tidak memiliki negara sendiri.
Dalam sejarahnya, AS pernah memberi perlindungan kepada kelompok Kurdi Irak melalui zona larangan terbang pasca pemberontakan 1991. Washington juga mendukung milisi Kurdi Suriah dalam operasi melawan kelompok ISIS.
Selain itu, badan intelijen Central Intelligence Agency (CIA) juga pernah memberikan dukungan intelijen kepada kelompok pemberontak dalam konflik Libya pada 2011 untuk menggulingkan pemimpin saat itu, Muammar Gaddafi.
Langkah terbaru Washington mempersenjatai oposisi Kurdi pun memunculkan kekhawatiran bahwa konflik yang sedang berlangsung dapat berkembang menjadi perang internal di Iran. (kls)
















Komentar
Tuliskan Komentar Anda!