Kameranusantara.id - Badan Gizi Nasional (BGN) menyampaikan permintaan maaf atas insiden dugaan keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terjadi di Kabupaten Sidoarjo pada Selasa (1/9/2026).
Permintaan maaf tersebut disampaikan Wakil Kepala BGN Trenggono saat mengunjungi Pondok Pesantren Manba’ul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, bersama Menteri Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Arifah Fauzi, Jumat (4/9/2026).
BGN menilai insiden yang dialami ratusan santri dan santriwati tersebut diduga berkaitan dengan kelalaian petugas dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah.
“"Kemudian, kami juga sampaikan ya permohonan maaf kami atas mungkin kelalaian ataupun ketidakpatuhan ya petugas dapur dalam mengoperasionalkan dapur, sehingga adanya kejadian fatal ini,” kata Trenggono, Jumat.
BGN juga mengapresiasi langkah cepat Pemerintah Kabupaten Sidoarjo dalam menangani para korban, terutama proses evakuasi pada hari pertama kejadian.
““Kemudian, kami juga mengucapkan terima kasih kepada Pak Bupati yang sudah bertindak cepat, sehingga semuanya tertangani dengan baik. Itu yang utama adalah harus tertangani dengan baik,” ujarnya
Sebagai tindak lanjut, BGN telah memberikan sanksi berat terhadap dapur SPPG Kalitengah dengan menghentikan sementara seluruh kegiatan operasional. Kepala SPPG Kalitengah Rafli Ridho juga dicopot dari jabatannya.
““Kemudian, kami juga melakukan tindakan ya untuk dapur ya, dapur tidak dioperasionalkan lagi. Sementara kita suspend, suspend berat. Artinya kita evaluasi, kita adakan investigasi. Kemudian juga kepala dapur kita copot ya, kita hentikan. Nanti kita cek apakah ada hal-hal unsur lain yang kira-kira membuat kejadian fatal ini,” katanya.
BGN juga membuka kemungkinan membawa kasus tersebut ke ranah hukum apabila hasil investigasi menemukan unsur dugaan tindak pidana.
Trenggono menjelaskan, pengawasan terhadap operasional dapur SPPG selama ini telah diperketat. BGN melakukan pemantauan secara daring melalui pertemuan Zoom setiap pagi dengan dapur-dapur SPPG di berbagai daerah.
““Sebenarnya, selama ini pengawasan sudah cukup ketat. Jadi kita setiap pagi ya, kita ada Zoom langsung ke seluruh dapur. Kita bagi penanggung jawab di tiap-tiap provinsi ya, mengecek secara langsung melalui Zoom,” ungkapnya.
Pengawasan tersebut mencakup seluruh tahapan operasional, mulai dari penerimaan bahan baku, pemeriksaan kualitas bahan, proses memasak, hingga pemorsian dan distribusi menu MBG kepada penerima.
““Mulai dari penerimaan barang mentah, sampai dengan pengecekan ya baik-buruknya bahan-bahan ini, sampai dengan jam 2 malam. Itu ada kegiatan mulai dari pembersihan bahan-bahan, masak, sampai dengan pendistribusian termasuk pemorsian,” ujarnya.
Menurut Trenggono, penerapan standar operasional prosedur (SOP) secara konsisten menjadi kunci untuk mencegah kejadian serupa.
““Jadi untuk SOP-nya sebenarnya sudah ada, tinggal dilaksanakan enggak nih di tiap-tiap dapur. Saya yakin dan percaya kalau SOP ini dilaksanakan, kita tidak akan ada terjadi kejadian (keracunan),” pungkasnya.
Sebelumnya, ratusan santri dan santriwati Ponpes Manba’ul Hikam serta sejumlah pelajar dari sekolah lain mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap menu MBG dari SPPG Kalitengah. Para korban mengalami sejumlah keluhan seperti pusing, lemas, dan mual sehingga harus mendapatkan penanganan di sejumlah rumah sakit.
Hingga Kamis (4/9/2026) pukul 08.00 WIB, tercatat 748 pasien yang diduga menjadi korban keracunan MBG di Sidoarjo. Dari jumlah tersebut, 20 pasien masih menjalani perawatan di rumah sakit, sedangkan 728 lainnya telah diperbolehkan pulang setelah kondisinya dinyatakan stabil. (*)
















Komentar
Tuliskan Komentar Anda!