DPR Nilai Kasus Siswa SD di Ngada Jadi Peringatan Keras Perlindungan Anak

DPR Nilai Kasus Siswa SD di Ngada Jadi Peringatan Keras Perlindungan Anak

Jakarta, kameranusantara.id - Peristiwa meninggalnya seorang siswa kelas IV sekolah dasar berinisial YBS (10) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, memicu keprihatinan luas. Dugaan bahwa anak tersebut mengakhiri hidup karena tak mampu membeli perlengkapan sekolah seharga Rp10 ribu dinilai sebagai sinyal darurat bagi sistem perlindungan anak di Indonesia.

Anggota Komisi VIII DPR RI, Ina Ammania, menyebut kejadian ini sebagai peringatan keras bagi negara dalam menjamin hak dasar anak, terutama hak atas pendidikan. Menurutnya, tragedi tersebut menunjukkan masih adanya celah serius dalam perlindungan anak dari keluarga kurang mampu.

“Ini alarm serius bagi negara. Gambaran yang sangat memprihatinkan bagi dunia pendidikan dan pemenuhan hak anak,” ujarnya.

Ina menilai kasus seperti ini seharusnya bisa dicegah jika negara benar-benar hadir melalui program perlindungan sosial dan bantuan pendidikan yang sudah dialokasikan dalam anggaran besar setiap tahun. Ia menegaskan berbagai skema bantuan bagi masyarakat miskin semestinya mampu menjangkau anak-anak dalam kondisi rentan.

Selain itu, ia menyoroti peran Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) yang dinilai perlu lebih aktif memastikan sistem perlindungan anak berjalan hingga ke daerah. Evaluasi menyeluruh dianggap penting, apalagi wilayah tersebut sebelumnya juga diwarnai sejumlah kasus kekerasan terhadap anak.

Ia menekankan perlunya penelusuran mendalam terhadap akar persoalan, mulai dari kondisi ekonomi keluarga hingga lingkungan sosial anak, agar kejadian serupa tidak terulang.

“Perlindungan anak harus dimulai dari keluarga dan lingkungan terdekat. Negara harus memastikan sistemnya benar-benar bekerja,” katanya.

Diketahui, sebelum meninggal, anak tersebut meninggalkan sepucuk surat untuk ibunya. Ia tinggal bersama neneknya, sementara sang ibu yang merupakan orang tua tunggal bekerja sebagai petani dan buruh serabutan untuk menghidupi lima anaknya.

Kasus ini kembali menggugah perhatian publik mengenai pentingnya kehadiran negara dalam menjamin kesejahteraan dan kesehatan mental anak, khususnya mereka yang tumbuh dalam keterbatasan ekonomi. (kls)

Olahraga

Konflik Global Memanas, FIFA Tetap Targetkan Piala Dunia 2026 Diikuti Semua Negara

Konflik Global Memanas, FIFA Tetap Targetkan Piala Dunia 2026 Diikuti Semua Negara

Jakarta, Kamerranusantara.id- Meski dinamika geopolitik global tengah memanas, badan sepak bola dunia FIFA menegaskan keinginannya agar Iran tetap

Advertisement