Jakarta, kameranusantara.id - Seorang prajurit TNI AL, Kelasi Dua Ghofirul Kasyfi (22), ditemukan meninggal dunia di dalam kamarnya di atas KRI Radjiman Wedyodiningrat. Namun, kematian anggota muda asal Bangkalan itu menyisakan sejumlah kejanggalan yang dipertanyakan keluarga.
Ayah korban, Mahbub Madani, mengungkapkan putranya sempat mengeluhkan perlakuan tidak menyenangkan sejak bertugas di kapal tersebut pada Februari 2026. Dalam sejumlah pesan kepada keluarga, korban mengaku mengalami kekerasan dari seniornya dan ingin dipindahkan ke penugasan lain.
“Dia bilang tidak kuat, sering dipukul, bahkan sampai banyak orang,” kata Mahbub.
Menurut keluarga, korban juga mengaku hanya mendapat waktu istirahat sangat terbatas dan kerap mengalami tekanan fisik pada malam hari. Kondisi ini membuatnya beberapa kali meminta pertolongan kepada orang tuanya.
Kejanggalan lain muncul saat dua orang yang mengaku senior korban datang ke rumah keluarga, menyebut Ghofirul sempat diduga meninggalkan kapal. Namun, sehari setelahnya, keluarga justru mendapat kabar bahwa korban telah meninggal dunia di dalam kamar kapal.
Pihak keluarga semakin curiga ketika melihat kondisi jenazah. Saat peti dibuka, ditemukan sejumlah luka lebam di tubuh korban, termasuk di bagian wajah dan tubuh lainnya. Bahkan, keluarga juga mengaku melihat adanya darah di bagian tertentu serta luka di leher yang dinilai tidak sesuai dengan dugaan bunuh diri.
“Kalau bunuh diri, posisi lukanya seharusnya berbeda. Ini justru tidak masuk akal,” ujar Mahbub.
Keluarga menolak kesimpulan awal yang menyebut korban meninggal karena bunuh diri. Mereka menilai terdapat banyak kejanggalan yang perlu diusut secara menyeluruh.
Atas dasar itu, pihak keluarga mendesak dilakukan autopsi guna mengungkap penyebab pasti kematian korban. Kasus ini kini menjadi sorotan dan diharapkan dapat diusut transparan untuk memberikan kejelasan bagi keluarga. (kls)
















Komentar
Tuliskan Komentar Anda!