Jakarta, kameranusantara.id - Harga minyak dunia kembali menguat tajam seiring memanasnya konflik di Timur Tengah dan mandeknya jalur diplomasi. Minyak mentah Brent Crude kontrak Juni naik 1,62 persen ke level US$119,94 per barel pada Kamis (30/4), memperpanjang tren kenaikan selama sembilan hari berturut-turut.
Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) kontrak Juni ikut menguat 0,59 persen ke posisi US$107,51 per barel, setelah sebelumnya melonjak signifikan pada sesi perdagangan sebelumnya.
Lonjakan harga dipicu kebuntuan negosiasi antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang belum menunjukkan tanda mereda. Presiden Donald Trump dilaporkan membahas opsi lanjutan blokade terhadap pelabuhan Iran bersama pelaku industri minyak, yang memicu kekhawatiran pasar akan terganggunya pasokan energi global dalam jangka panjang.
Situasi kian diperparah dengan penutupan Selat Hormuz oleh Iran, yang selama ini menjadi jalur vital distribusi minyak dunia. Analis menilai peluang pembukaan kembali jalur tersebut dalam waktu dekat masih sangat kecil.
Di sisi lain, OPEC+ diperkirakan hanya akan menaikkan produksi secara terbatas, sekitar 188 ribu barel per hari. Kebijakan ini dinilai belum cukup untuk meredam lonjakan harga di pasar.
Tekanan terhadap pasokan juga meningkat setelah Uni Emirat Arab memutuskan keluar dari OPEC mulai 1 Mei. Keputusan ini berpotensi mengurangi kemampuan organisasi dalam mengendalikan stabilitas harga minyak global.
Sejumlah analis memperkirakan negara-negara Teluk membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk memulihkan kapasitas produksi ke level sebelum konflik. Kondisi ini membuat pasar energi diprediksi tetap bergejolak dalam waktu dekat. (kls)
















Komentar
Tuliskan Komentar Anda!