Jakarta, kameranusantara.id - Harga minyak global melonjak signifikan di tengah ketegangan geopolitik dan perubahan peta pasokan energi dunia. Pada perdagangan Rabu, minyak mentah jenis Brent Crude untuk kontrak Juni naik 3,5 persen ke level USD115,13 per barel. Sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 3,7 persen menjadi USD103,69 per barel.
Kenaikan ini menandai reli delapan hari berturut-turut, dengan lonjakan harga lebih dari 49 persen sejak konflik militer antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran pada akhir Februari lalu.
Lonjakan harga dipicu blokade laut yang diberlakukan Washington terhadap pelabuhan Iran, serta langkah balasan Teheran yang menutup Selat Hormuz—jalur vital distribusi energi global. Upaya negosiasi sempat dilakukan, namun ditolak oleh Presiden Donald Trump, membuat ketegangan terus berlanjut.
Di tengah situasi tersebut, lembaga keuangan Citigroup menaikkan proyeksi harga minyak Brent kuartal II-2026 menjadi USD110 per barel. Bahkan, dalam skenario terburuk, harga diperkirakan bisa menembus USD130 hingga USD150 per barel jika gangguan pasokan terus berlanjut.
Dari sisi pasokan, keputusan mengejutkan datang dari Uni Emirat Arab yang resmi keluar dari OPEC dan aliansi OPEC+ mulai 1 Mei. Langkah ini mengakhiri hampir enam dekade keanggotaan negara tersebut di kartel minyak global.
Sebagai produsen terbesar ketiga di OPEC, UEA memiliki kapasitas produksi sekitar 3,2 juta barel per hari. Setelah keluar dari kuota organisasi, negara itu berencana meningkatkan produksi hingga 30 persen atau sekitar 1 juta barel per hari.
Keputusan ini dinilai akan mengubah keseimbangan pasar minyak dunia, terutama karena OPEC kehilangan salah satu anggota dengan kapasitas produksi cadangan besar selain Arab Saudi.
Kombinasi konflik geopolitik dan perubahan strategi produksi ini diperkirakan akan terus menjaga volatilitas harga minyak dalam beberapa waktu ke depan.
















Komentar
Tuliskan Komentar Anda!