Jakarta, kameranusantara.id - Pengamat militer Connie Rahakundini Bakrie menilai langkah Presiden Prabowo Subianto memperkuat alat utama sistem persenjataan (alutsista) merupakan respons terhadap meningkatnya persaingan geopolitik global, terutama di jalur pelayaran strategis dunia atau sea lines of communication (SLOCs).
Menurut Connie, Selat Malaka berpotensi menjadi kawasan yang rawan tekanan geopolitik seperti Selat Hormuz di Timur Tengah karena memiliki posisi vital dalam jalur perdagangan dan distribusi energi internasional.
Ia menyebut kedatangan enam jet tempur Dassault Rafale, empat pesawat Dassault Falcon 8X, satu Airbus A400M Atlas MRTT, serta radar dan rudal modern menjadi langkah strategis untuk memperkuat pertahanan nasional.
Namun, Connie mengingatkan bahwa tantangan Indonesia tidak hanya membeli alutsista baru, tetapi juga membangun sistem pertahanan yang terintegrasi. Menurutnya, Indonesia perlu membangun kemampuan perang modern yang menyatu antara kekuatan udara, laut, siber, hingga sistem pengawasan.
Ia menilai sebagai negara kepulauan, Indonesia harus memperkuat pertahanan maritim melalui kapal selam, kapal perang anti udara, drone maritim, rudal pertahanan pantai, hingga satelit pengawasan laut.
Di sektor udara, Connie menilai Indonesia membutuhkan sistem pertahanan udara terintegrasi, termasuk pesawat pengintai, pesawat tanker tambahan, radar nasional, drone jarak jauh, dan sistem perang elektronik guna mempercepat respons terhadap ancaman.
Selain kekuatan konvensional, ia juga menyoroti pentingnya penguatan pertahanan siber. Menurutnya, perang modern kini tidak hanya terjadi lewat serangan fisik, tetapi juga melalui gangguan komunikasi, data, hingga penyebaran disinformasi.
Karena itu, Connie mendorong penguatan cyber command, intelijen berbasis kecerdasan buatan, sistem enkripsi militer, dan perlindungan infrastruktur vital nasional.
Ia menilai Presiden Prabowo memahami bahwa sistem pertahanan modern tidak lagi bisa dibangun dengan pola lama. Meski begitu, keberhasilan penguatan pertahanan tetap membutuhkan strategi jangka panjang dan penguatan industri pertahanan dalam negeri.
Sebelumnya, Presiden Prabowo menyerahkan sejumlah alutsista baru kepada TNI di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta. Penyerahan itu meliputi enam unit pesawat tempur Rafale, satu Airbus A400M Atlas MRTT, empat Falcon 8X, radar GCI GM403, serta rudal Meteor dan Smart Weapon Hammer.
Prabowo menegaskan penguatan alutsista menjadi bagian penting dalam menjaga kedaulatan Indonesia di tengah situasi geopolitik dunia yang semakin tidak menentu. (kls)
















Komentar
Tuliskan Komentar Anda!