Jakarta, kameranusantara.id - Pemerintah Prancis mengerahkan kapal induk bertenaga nuklir Charles de Gaulle ke kawasan Laut Merah untuk mendukung keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Langkah itu diambil di tengah meningkatnya ketegangan kawasan menyusul konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Kementerian Pertahanan Prancis menyebut armada kapal induk tersebut dipindahkan dari Mediterania timur menuju Laut Merah dan Teluk Aden melalui Terusan Suez. Operasi itu disebut sebagai bagian dari persiapan menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
Menurut pemerintah Prancis, pengerahan armada bukan untuk terlibat dalam konflik militer, melainkan menjaga stabilitas logistik maritim dan melindungi jalur perdagangan internasional.
Prancis menegaskan tetap mematuhi hukum internasional dan tidak menjadi pihak dalam perang yang sedang berlangsung. Namun, Paris menilai keamanan Selat Hormuz merupakan kepentingan bersama yang berdampak besar terhadap distribusi energi global.
Situasi di kawasan memanas setelah Iran menutup Selat Hormuz usai pecah perang dengan dukungan AS dan Israel. Sebagai respons, AS melakukan blokade terhadap sejumlah pelabuhan Iran di kawasan tersebut.
Presiden Emmanuel Macron menyatakan misi multinasional yang digagas bersama Inggris bertujuan mengembalikan kepercayaan pelaku pelayaran dan perusahaan asuransi internasional.
Macron juga menegaskan operasi pengamanan itu akan berjalan terpisah dari pihak-pihak yang bertikai agar tetap netral.
Selain fokus pada keamanan pelayaran, Prancis turut mendorong kelanjutan negosiasi terkait program nuklir Iran dan stabilitas kawasan Timur Tengah. Macron mengaku telah berbicara langsung dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan berencana membahas isu tersebut dengan Presiden AS Donald Trump. Paris berharap meredanya ketegangan di Selat Hormuz dapat membuka ruang diplomasi baru terkait isu nuklir, rudal balistik, dan keamanan regional. (kls)
















Komentar
Tuliskan Komentar Anda!