Bareskrim Polri Bongkar E-Tilang Palsu, Dikendalikan WN China

Bareskrim Polri Bongkar E-Tilang Palsu, Dikendalikan WN China

Jakarta, kameranusantara.id - Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipidsiber) Bareskrim Polri mengungkap sindikat penipuan berbasis SMS blast yang menyamar sebagai layanan e-tilang resmi. Kejahatan siber ini diketahui dikendalikan langsung oleh warga negara (WN) China dan melibatkan sejumlah pelaku di Indonesia.

Kasus ini terkuak setelah adanya laporan dari Kejaksaan Agung pada Desember 2025 terkait beredarnya tautan palsu yang mencatut institusi pemerintah. Pengungkapan tersebut juga sempat disampaikan Kapolri Listyo Sigit Prabowo dalam rapat kerja bersama Komisi III DPR RI.

Berikut lima fakta penting dalam kasus tersebut:

1. Dikendalikan dari China

Dirtipidsiber Bareskrim Polri, Brigjen Himawan Bayu Aji, menyebut kejahatan ini dikontrol oleh dua WN China yang berkomunikasi melalui akun Telegram bernama Lee SK dan Daisy Qiu. Mereka mengatur operasional dari jarak jauh, termasuk pengiriman perangkat SIM box ke Indonesia.

2. Gunakan SIM Box dan Ratusan Kartu SIM

Para pelaku di Indonesia memasang ratusan kartu SIM yang telah diregistrasi menggunakan NIK warga untuk menjalankan perangkat blasting. Dalam sehari, satu perangkat mampu mengirim hingga 3.000 SMS phishing berisi tautan e-tilang palsu yang menjerat korban.

3. Lima Tersangka Ditangkap

Polisi telah mengamankan lima tersangka berinisial WTP, FN, RW, BAP, dan RJ. Masing-masing memiliki peran berbeda, mulai dari operator utama SMS blast, penyedia jasa, hingga penjual kartu SIM terdaftar.

4. Pengendali Asing Diburu, Red Notice Disiapkan

Dua WN China yang diduga sebagai otak kejahatan kini diburu. Polisi berkoordinasi dengan Divisi Hubinter dan Interpol untuk menerbitkan red notice. Keduanya disebut sempat datang ke Indonesia untuk memberikan pelatihan penggunaan perangkat.

5. Operator Digaji Kripto hingga Hampir Rp 1 Miliar

Para operator menerima bayaran dalam bentuk mata uang kripto USDT, dengan kisaran 1.500 hingga 4.000 USDT per bulan. Salah satu tersangka, BAP, tercatat menerima total sekitar 53.000 USDT atau setara hampir Rp 1 miliar dalam ratusan transaksi sejak Februari 2025.

Imbauan untuk Masyarakat

Polri mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya pada SMS dari nomor tak dikenal yang menyertakan tautan, terutama yang mengatasnamakan instansi pemerintah. Warga diminta selalu memverifikasi alamat situs resmi sebelum memasukkan data pribadi atau informasi perbankan.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa modus kejahatan digital semakin canggih dan terorganisir lintas negara. Kewaspadaan publik menjadi kunci utama untuk mencegah korban baru. (kls)

Olahraga

Konflik Global Memanas, FIFA Tetap Targetkan Piala Dunia 2026 Diikuti Semua Negara

Konflik Global Memanas, FIFA Tetap Targetkan Piala Dunia 2026 Diikuti Semua Negara

Jakarta, Kamerranusantara.id- Meski dinamika geopolitik global tengah memanas, badan sepak bola dunia FIFA menegaskan keinginannya agar Iran tetap

Advertisement