Kameranusantara.id - Ribuan mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI) kembali menegaskan komitmen kebangsaan dan kesetiaan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di hadapan Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo.
Penegasan tersebut disampaikan dalam Silaturahmi Akbar Garda Satya NKRI yang berlangsung di Edutorium Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Minggu (30/8/2026). Kegiatan yang sekaligus menjadi tasyakuran HUT ke-81 RI itu diikuti sekitar 6.500 eks anggota JI dari Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur.
Para peserta kini tergabung dalam Garda Satya NKRI yang dipimpin mantan Amir JI, Ustadz Para Wijayanto.
Kepala Densus 88 Anti Teror Polri Irjen Pol Sentot Prasetyo mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari road map lima tahun reintegrasi sosial setelah JI mendeklarasikan pembubaran organisasinya pada 30 Juni 2024.
“Komitmen kami mengawal penuh proses reintegrasi agar saudara-saudara kita kembali setia pada ideologi Pancasila,” ujar Sentot.
Polri mencatat hingga Agustus 2026 sebanyak 7.942 mantan anggota JI yang tersebar di 28 provinsi telah mengikuti program pembinaan. Program tersebut tidak hanya berfokus pada penguatan ideologi, tetapi juga diarahkan pada kemandirian ekonomi.
Bersama kementerian terkait, Polri telah memfasilitasi 19 program pelatihan yang bertujuan meningkatkan kemampuan ekonomi para peserta pembinaan.
Pembubaran JI Disebut Berasal dari Kesadaran Internal
Dalam diskusi panel yang menghadirkan Wakadensus 88 Brigjen Pol Tubagus Ami Prindani dan Wakil Rektor UIN Salatiga Prof. Muhammad Saerozi, Ustadz Para Wijayanto menjelaskan bahwa keputusan pembubaran JI merupakan hasil dari proses internal organisasi.
“Kami kembali bukan berdasarkan tekanan, tapi memang perubahan metode dalam penanganan terorisme yang tepat. Kami membubarkan diri dengan sukarela berdasarkan musyawarah mufakat dan kembali ke NKRI,” tegasnya.
Setelah bergabung dalam Garda Satya NKRI, para mantan anggota JI menyatakan keinginan untuk memberikan kontribusi positif melalui berbagai bidang, mulai dari kewirausahaan, ekonomi, dakwah hingga kegiatan kemanusiaan.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyambut baik komitmen tersebut. Ia mendorong berbagai potensi dan keahlian yang dimiliki para mantan anggota JI dapat diarahkan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Beliau-beliau memiliki keinginan kuat untuk bisa mengaktualisasikan apa yang dimiliki di bidang yang sudah ditekuni, baik di kewirausahaan, ekonomi, dakwah, bahkan keterpanggilan untuk melaksanakan kegiatan kemanusiaan seperti bencana,” kata Kapolri.
Kapolri juga menegaskan proses reintegrasi dan bergabungnya mantan anggota JI ke Garda Satya NKRI tetap berlangsung secara sukarela tanpa adanya tekanan.
“Tidak ada tekanan, tidak ada paksaan, tapi ini lebih memunculkan panggilan dari hati nurani untuk bergabung ke NKRI,” pungkasnya. (*)
















Komentar
Tuliskan Komentar Anda!