JAKARTA, kameranusantara.id — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai menunjukkan dampak lebih luas dari sekadar perbaikan gizi masyarakat. Inisiatif ini kini dipandang sebagai penggerak ekonomi desa yang mampu menghidupkan sektor pertanian dan perikanan secara berkelanjutan.
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, Sony Sanjaya, mengungkapkan besarnya perputaran dana dalam program tersebut. Ia menyebut ratusan miliar rupiah mengalir setiap hari ke pelaku ekonomi lokal, mulai dari petani, peternak, hingga pedagang bahan pangan.
“Dana yang digelontorkan langsung menyentuh masyarakat akar rumput di berbagai daerah,” ujarnya.
Efek berantai dari program ini dinilai mampu memperkuat rantai pasok pangan nasional. Founder The Centre for Indonesian Crisis Strategic Resolution, Muhammad Makmun Rasyid, menilai kepastian pasar dari ribuan dapur layanan gizi menjadi faktor kunci yang mendorong produksi pangan lokal.
Menurutnya, meningkatnya kebutuhan bahan pangan seperti sayur, telur, dan protein lainnya membuka peluang besar bagi generasi muda untuk kembali melirik sektor pertanian.
Selain itu, keberadaan dapur-dapur MBG di berbagai wilayah menciptakan permintaan stabil yang selama ini sulit didapat petani dan nelayan. Kondisi ini sekaligus mendorong pemanfaatan kembali lahan produktif yang sebelumnya terbengkalai.
Di sisi lain, program ini juga berpotensi menekan laju urbanisasi. Dengan meningkatnya aktivitas ekonomi di desa, masyarakat tidak lagi bergantung pada kota sebagai pusat penghidupan.
Namun, transformasi tersebut dinilai membutuhkan dukungan lebih lanjut, terutama dalam akses pembiayaan dan penerapan teknologi pertanian. Tanpa itu, produksi lokal dikhawatirkan sulit memenuhi kebutuhan dalam skala besar.
Untuk memperkuat dampak ekonomi, MBG juga didorong terintegrasi dengan program koperasi desa dan sektor perikanan. Ekonom Adidaya Institute, Bramastyo B. Prastowo, menilai integrasi rantai pasok ini penting agar program tidak sekadar menjadi beban anggaran.
“Rantai pangan harus menjadi satu kesatuan sistem ekonomi yang utuh,” ujarnya.
Dengan model tersebut, pelaku UMKM pangan di daerah mendapatkan kepastian pasar, sekaligus memperkuat ekonomi lokal secara menyeluruh.
Dalam jangka panjang, pendekatan ini juga menjadi strategi menghadapi ketidakpastian global, terutama terkait lonjakan harga pangan akibat gangguan distribusi internasional. Penguatan produksi dalam negeri dinilai sebagai langkah penting menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Dengan target puluhan juta porsi makanan per hari, MBG kini tidak lagi diposisikan sekadar program bantuan sosial, melainkan sebagai investasi jangka panjang untuk membangun kemandirian pangan dan ekonomi berbasis desa. (kls)
















Komentar
Tuliskan Komentar Anda!