JAKARTA, kameranusantara.id – Pelemahan nilai tukar rupiah hingga menyentuh Rp17.405 per dolar AS memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi nasional. Kondisi tersebut mendorong Partai Daulat Kerajaan Nusantara (PDKN) mendesak Presiden Prabowo Subianto mengevaluasi kinerja Bank Indonesia, termasuk mempertimbangkan pergantian Gubernur BI Perry Warjiyo.
Ketua Umum PDKN Rahman Sabon Nama menilai anjloknya rupiah bertolak belakang dengan pernyataan Bank Indonesia sebelumnya yang menyebut kondisi nilai tukar masih stabil. Menurutnya, pelemahan rupiah berpotensi memicu inflasi, terutama pada sektor pangan yang masih bergantung pada impor.
“Pelemahan rupiah ini akan berdampak langsung terhadap harga kebutuhan pokok dan biaya produksi,” ujar Rahman dalam keterangannya di Tangerang Selatan, Rabu (6/5/2026).
Rahman menyebut tekanan ekonomi saat ini tidak bisa dianggap ringan. Selain nilai tukar yang terus melemah, ia juga menyoroti tingginya utang negara yang disebut mencapai Rp9.638 triliun serta defisit APBN per Maret 2026 sebesar Rp240 triliun.
PDKN juga mengingatkan kenaikan harga minyak dunia di atas asumsi APBN dapat memperbesar tekanan terhadap keuangan negara. Kondisi tersebut dinilai berisiko memicu kenaikan harga barang secara berantai, baik produk impor maupun barang lokal yang bergantung pada bahan baku luar negeri.
Senada dengan itu, Ketua Umum Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) Wilson Lalengke meminta pemerintah tidak menganggap enteng situasi ekonomi saat ini. Ia menilai pemerintah perlu segera mengambil langkah konkret untuk menjaga daya beli masyarakat.
“Kondisi ini menjadi alarm serius bagi ekonomi nasional. Pemerintah perlu meninjau kembali kinerja otoritas moneter agar krisis tidak semakin dalam,” katanya.
Sebagai solusi, PDKN mengusulkan sejumlah langkah strategis, mulai dari menjaga stabilitas harga pangan, deregulasi sektor perdagangan dan industri, memperluas bank devisa daerah, hingga memperkuat sektor pertanian dan industri berbasis ekspor.
PDKN menilai koordinasi antara sektor moneter dan sektor riil menjadi kunci untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tekanan global yang terus meningkat. (kls)
















Komentar
Tuliskan Komentar Anda!