Newyork, kameranusantara.id - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkap temuan awal terkait insiden yang menewaskan prajurit TNI dalam misi perdamaian di Lebanon selatan. Ledakan di pinggir jalan diduga menjadi penyebab utama serangan terhadap konvoi pasukan penjaga perdamaian.
Kepala Operasi Perdamaian PBB, Jean-Pierre Lacroix, menyatakan penyelidikan masih berlangsung untuk memastikan kronologi kejadian secara utuh. Ia menegaskan situasi ini sangat memprihatinkan dan membutuhkan penanganan serius.
Dalam dua hari terakhir, tiga prajurit TNI yang tergabung dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon dilaporkan gugur dalam insiden terpisah di Lebanon selatan. Dua di antaranya tewas akibat ledakan di dekat Bani Hayyan, sementara satu lainnya meninggal setelah proyektil menghantam posisi pasukan sehari sebelumnya. Beberapa personel lain juga mengalami luka-luka.
Juru bicara PBB menyebut ledakan tersebut kemungkinan berasal dari bom rakitan atau improvised explosive device (IED). Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, mengecam keras serangan tersebut dan menegaskan bahwa tindakan terhadap pasukan penjaga perdamaian merupakan pelanggaran serius hukum humaniter internasional.
Di sisi lain, pihak Israel membantah keterlibatan dalam insiden tersebut. Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon, justru menuding kelompok Hizbullah sebagai pihak yang bertanggung jawab. Namun hingga kini, tuduhan tersebut belum mendapat tanggapan resmi.
PBB melalui UNIFIL meminta semua pihak yang memiliki informasi untuk menyerahkannya kepada tim investigasi guna mengungkap fakta secara transparan.
Pemerintah Indonesia juga mengecam keras serangan ini dan menilai meningkatnya eskalasi konflik di Lebanon selatan telah memperbesar risiko bagi pasukan penjaga perdamaian. Ketegangan di kawasan tersebut terus meningkat sejak konflik antara Israel dan Hizbullah kembali memanas pada awal Maret 2026.
Seiring berlanjutnya konflik, efektivitas misi perdamaian PBB di Lebanon kembali menjadi sorotan. Hingga kini, ribuan personel dari berbagai negara masih bertugas menjaga stabilitas di wilayah yang rawan konflik tersebut. (kls)
















Komentar
Tuliskan Komentar Anda!