Jakarta, kameranusantara.id - Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya tidak akan tunduk pada tekanan Amerika Serikat dalam proses negosiasi konflik yang tengah berlangsung. Ia menyatakan bahwa Iran tidak bisa dipaksa menyerah, termasuk melalui ancaman militer.
Dalam pernyataannya di media sosial, Pezeshkian juga mendesak AS untuk menghentikan ancaman militer di kawasan Timur Tengah. Sikap tegas ini muncul di tengah upaya diplomasi yang masih berlangsung antara kedua negara.
Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam mengungkapkan bahwa strategi pengamanan di Selat Hormuz bertujuan membatasi distribusi logistik militer menuju pangkalan AS di kawasan tersebut. Selat ini menjadi salah satu titik krusial dalam dinamika konflik dan negosiasi.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump memutuskan menunda operasi militer yang dikenal sebagai “Proyek Kebebasan” untuk memberi ruang bagi jalannya perundingan dengan Teheran. Meski demikian, blokade terhadap Iran disebut masih tetap diberlakukan.
Keputusan penundaan operasi ini muncul tak lama setelah pemerintah AS memaparkan rencana aksi tersebut secara terbuka, menandakan adanya dinamika cepat dalam pengambilan kebijakan di Washington.
Namun, situasi dinilai masih belum stabil. Anggota Kongres AS, Raja Krishnamoorthi, menilai kesepakatan gencatan senjata masih rapuh dan membutuhkan kejelasan lebih lanjut. Ia meminta pemerintah memberikan laporan intelijen komprehensif kepada Kongres terkait arah kebijakan di kawasan tersebut.
Di tengah klaim bahwa konflik telah mereda, kehadiran militer AS di wilayah tersebut serta kebijakan blokade terhadap Iran menunjukkan bahwa ketegangan belum sepenuhnya berakhir. (kls)
















Komentar
Tuliskan Komentar Anda!